Sunday, 6 August 2017

Lost You Forever - Chapter 3 (part 2) -Tong hua (Indonesian Bahasa)

Xiao Liu menambahkan "Kalau kau berani maka tak boleh pakai kekuatan gaib." Xiang Liu mendongakkan kepalanya dan memandang bulan. Xiao Liu mendesak "Takut? Tak mungkin? Si sembilan nyawa Xiang Liu tak mungkin sepengecut itu!" Xiang Liu akhirnya menatap tepat ke mata Xiao Liu "Melihatmu memohon, aku akan lakukan,"

"Aku memohon?"

"Tidakkah?"

Kepala Xiao Liu bersandar ke leher elang "Baiklah, anggap saja aku memohon."

Xiang Liu membuka jubahnya dan melompat ke dalam air. Xiao Liu berenang menuju tepian dan dengan segenap kekuatannya berusaha, Xiang Liu disebelahnya. Air danau sedingin es dan Xiao Liu merasakan suhu tubuhnya panas karena berenang. Dia bisa melupakan segalanya dan kembali kemasa kecil ketika semuanya terasa bebas, sangat santai, sangat bahagia. Tujuan satu satunya adalah tepi pantai, sangat sederhana.

Setelah satu jam akhirnya Xiao Liu sampai kepantai. Xiang Liu duduk disebelah api unggun dan pakaiannya sudah kering. Xiao Liu menggapai daratan "Kau menang, tapi ... " ia menarik seekor ikan dari dalam bajunya "Aku menangkap ikan. Mari kita bakar, aku lapar."

Xiao Liu mulai memasak dan Xiang Liu berkata "Kau besar disuatu tempat yang banyak air."

"Apakah kau mengatakan itu kepada siapa pun yang bisa berenang?"

"Bukan hanya karena kau bisa berenang, berenang membuatmu sangat bahagia. Orang orang mencari hal yang paling mereka kenal untuk bersantai dan memperoleh kebebasan dan kebahagiaan dari masa kecil."

Xiao Liu bersiul "Mereka bilang kau iblis dengan sembilan kepala, dan dengan kesembilan kepalamu untuk berpikir pasti hasil pemikiranmu juga mengesankan. Bahkan kata katamu sangat dalam."
"Tidakkah kau tau itu topik yang tabu?"

Xiao Liu tidak takut dan melanjutkan "Aku penasaran, bagaimana susunan sembilan kepalamu? Satu kepala diatas kepala lainnya? Atau tiga disebelah kanan dan tiga disebelah kiri dan tiga ditengah? Kepala mana yang makan lebih dulu saat kau makan?....." Xiao Liu tiba tiba tidak bisa bicara.

"Nnnnnngggg ..... nnnnngggggg."

Xiang Liu mengambil ikan yang sudah matang dan perlahan mulai memakannya sementara Xiao Liu cuma bisa melihat. Setelah ia seleasai makan dia menatap Xiao Liu "Aku sebenarnya paling suka makan manusia. Ukuranmu paling sesuai jadi setiap kepalaku bisa kebagian."

Tangannya membelai wajah Xiao Liu dan dia mendekat dan mencengkeram leher Xiao Liu. Tubuh Xiao Liu gemetar dan ia menutup matanya. Lidah Xiang Liu menyicipi darah dan seberkas kesadaran merasuki pikirannya. Dia dengan lambat menghisap darah Xiao Liu sebelum berhenti dan mengangkat kepalanya "Apakah kau masih mau bicara yang tidak tidak lagi?"

Xiao Liu menggeleng dengan kuat. Xiang Liu melepaskannya dan Xiao Liu merangkak sejauh jauhnya. Xiang Liu naik ke elangnya dan mengarahkan jarinya ke arah Xiao Liu. Xiao Liu tak berani mendekat malah melangkah mundur. Xiang Liu memandang sambil tersenyum "Apakah kau mau aku yang kesana?" Xiao Liu segera menggeleng dan dengan patuh menghampiri dan naik ke punggung elang.

Sesampainya mereka dikota Qing Shui , Xiang Liu menendang Xiao Liu tanpa peringatan dan Xiao Liu jatuh ke sungai. Xiao Liu tertegun dan mengambang diatas air, memandang elang itu terbang. Suasanan sangat gelap dan sepi bahkan Xiao Liu tidak punya energi untuk menyumpah. Xiao Liu menutup matanya dan membiarkan air subgai membawa tubuhnya mengikuti aliran sungai dan ketika dia mulai megap dia sudah dekat ke klinik, dia membalikkan badannya dan berenang ke tepian. Dia memanjat ke daratan basah kuyup dan hal pertama yang ia lihat adalah Shi Qi berdiri menantinya. Xiao Liu tersenyum "Masih belum tidur? Jaga dirimu dan pergilah beristirahat." Dia berjalan melewati Shi Qi yang mengikutinya dari belakang namun Xiao Liu bersikap seolah olah tidak tau. Dia berjalan masuk ke kamarnya dan menutup pintu tanpa menoleh lagi.

Dengan cepat mengganti bajunya yang basah dan mengeringkan bajunya sebelum naik ketempat tidur dalam keadaan telanjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Selimut itu biasanya dingin namun kali ini terasa hangat karena ada buntalan hangat disisipkan ke dalamnya membuat selimut itu hangat dan wangi. 
Chuan Zi an Lao Mu sudah jelas bukan tipe orang yang sensitif. Xiao Liu tersenyum dan tengkurap dan terlelap, tubuhnya begitu lelah bahkan ia tak bermimpi sama sekali.

Keesokan harinya, Xiao Liu bersikap seperti tak terjadi apa apa dan pergi bekerja seperti biasa. Karena Ma Zi sedang masa penyembuhan dirumah Gao Lao Mu kelihatannya baik baik saja meskipun menolak untuk pergi ke klinik, tinggallah Xiao Liu yang kebagian banyak pekerjaan. Syukurlah Shi Qi sangat membantu mengurusi pasien, meracik obat ... setelah hari panjang yang sibuk dan setelah makan malam selesai, Chuan Zi melihat Lao Mu masuk ke dapur, dia menoleh ke Xiao Liu "Apakah kita akan membiarkan hal ini berlalu?"

Xiao Liu mengunyah leher bebek "Kalau kita tidak membiarkan ini berlalu lantas apa yang akan kita lakukan?" Chuan Zi menendang penggiling "Aku kesal!"

Xiao Liu menempeleng Chuan Zi dengan leher bebek "Aku pikir aku telah memanjakanmu selama bertahun tahun jadi kau tidak mengerti bagaimana kenyataan diluar sana! Dalam kehidupan ini, sepanjang kau masih bernyawa maka akan tiba waktunya kau harus menahan diri  meskipun kadang kau tak mampu bertahan lagi. Untuk mundur meskipun kau tidak mau. Bahkan pangeran dan para putri juga demikian."

Chuan Zi ingat ketika masih kecil bagaimana ia sangat menderita dan meskipun tidak rela dia harus mengakui bahwa Xiao Liu ada benarnya. Dia hanya manusia biasa dan menahan diri adalah keharusan. Namun ia masih menggerutu "Kau bicara seperti kau tahu saja, tapi kau kan bukan pangeran atau putri!"

"Dasar kau anak kura kura! Kalau aku tak memukulmu beberapa kali dalam seminggu kau akan lupa siapa bosnya!" Xiao Liu menerjang dan menggapai gagang sapu dan mulai memukuli Chuan Zi sementara Chuan Zi memegangi bokongnya dan menundukkan kepalanya lalu lari masuk kamar dan mengunci pintu, Xiao Liu menggedor pintu dengan sapu dan berteriak "Apakah kau sudah paham apa yang kukatakan?"

Lao Mu berdiri didepan pintu dapur dan berkata "Xiao Liu, aku dengar apa yang kau katakan dan aku paham. Jangan cemas, aku akan baik baik saja." Dia menutup pintu dapur dan berjalan menuju kamarnya. Xiao Liu segera tenang dan melemparkan sapu ke sudut halaman.

Chuan Zi membuka sedikit jendelanya dan memandang cemas kekediaman Lao Mu. Xiao Liu menggetok kepala Chuan Zi dan berkata dengan suara lemah "Orang orang itu hanya singgah di Qing Shui. Ketika mereka pergi, waktu akan menghapus semuanya dan Lao Mu akan kembali normal." Chuan Zi mengangguk dan menutup pintu jendelanya.

Shi Qi menyodorkan keranjang makanan ke Xiao Liu dan ia mengambil beberapa potong leher bebek. Mata Shi Qi bersinar. Xiao Liu tersenyum sopan "Terimakasih" dan mata Shi Qi kembali redup. Xiao Liu mengunyah ceker bebek berjalan menuju kamarnya menendang pintu dan masuk. Shi Qi memegang keranjang makanan masih berdiri dan menundukkan kepalanya.

Sudah enam bulan dan Ah Nian dan Xuan tidak pergi meninggalkan kota Qing Shui seperti perkiraan Xiao Liu. Chuan Zi dengan amarahnya mengurus tanaman herba dan mengeluh "Abang Liu, penyihir dan simuka-manis itu membuka kedai anggur dipinggir jalan. Aku akan memanggil beberapa pengemis untuk merusak bisnisnya."

Xiao Liu menendangnya "Kalau kau punya kemampuan untuk merusak usaha seseorang maka kau bukan Chuan Zi." Chuan Zi menghempaskan cangkulnya ke tanah dan Xiao Liu menasehatinya "Berhati hatilah, bila kau merusak tanaman obatku aku akan memukul kepalamu dengan cangkul itu!"

Chuan Zi menggerutu "Lao Mu belum pernah pergi keluar sejak kejadian itu. Bila mereka tetap tinggal dikota, apa yang akan dilakukan Lao Mu?"

Xiao Liu menggeletak didekat keranjang dan mengunyah sejumput rumput dan merenung. Bukan cuma Lao Mu yang tidak pergi meninggalkan rumah, Shi Qi juga jarang keluar dan bila ia keluar dia akan memakai topi bertudung.

Xiao Liu tidak bisa memahaminya. Shi Qi tidak punya pilihan karena ia tidak mau pulang kerumah aslinya, namun pria ganteng dan si brengsek Ah Nian kelihatannya cukup mapan jadi mengapa mereka malah menetap di Qing Shui dan tak ingin pergi? Apakah karena masalah keluarga sehingga mereka tidak bisa bersama sehingga mereka minggat? Apakah Xuan pria tampan yang berasal dari keluarga miskin yang berhasil merayu seorang gadis bangsawan, jadi gadis itu membawa pelayannya dan kabur dan sekarang mereka menjadi pasangan yang kawin lari....
Chuan Zi berlutut didepan Xiao Liu " Abang Liu, apa yang kau pikirkan?"

Xiao Liu menjelaskan "Coba pikirkan, sulit untuk menghasilkan uang dikota ini, mereka tak akan bertahan lama dan toko mereka akan tutup pada akhirnya." Chuan Zi berpikir dan setuju. Kedai kedai anggur ya g sudah ada akan mencoba menekan pria baru, dan pria tampan itu tidak kelihatan seperti pebisnis. Chuan Zi kembali merasa senang. Sayang sekali tiga bulan kemudian baik Chuan Zi maupun Xiao Liu kembali kecewa.

Kedai anggur pria tampan itu tidak hanya berjalan lancar dikota Qing Shui, usahanya juga kelihatan cukup bagus. Chuan Zi sangat murka "Pelacur pelacur itu sangat menyukai wajah tampan dan mereka membuat bisnis pria itu tetap berjalan. Aku melihat mereka semua berpakaian bagus dan terus membeli anggur. Pria tampan itu juga tak tau malu, merayu pelacur pelacur itu ....."

Xiao Liu melirik Lao Mu yang masih menolak untuk keluar rumah dan memutuskan untuk berjalan jalan ke kedai anggur. Xia Liu melangkah keluar dan Shi Qi membuntuti, Xiao Liu berkata " Aku pergi ke kedai anggur pria tampan itu. Hanya melihat, tidak untuk berkelahi." Shi Qi terhenti dan Xiao Liu tersenyum melanjutkan perjalanannya. Beberapa saat kemudian Shi Qi kembali membuntuti kali ini menggunakan topi. Xiao Liu melirik kebelakang dan tidak berkata apa apa.

Xiao Liu masuk ke restauran diseberang kedai anggur dan memesan dua porsi makanan. Dia duduk dan dengan terang-terangan memperhatikan sementara Shi Qi duduk dibelakangnya seolah olah dia tak pernah ada. Tidak terlihat Ah Nian maupun Hai Tang, melihat situasinya, mereka sepertinya tidak menampakkan wajah mereka ke pelanggan dan tetap berada dibelakang.

Pria tampan itu sibuk menjalankan bisnis, berpakaian seperti masyarakat biasa selagi dia mengumpulkan uang dan memberikan anggur dan menyapa pelanggan. Dia tidak kelihatan berbeda dan nampaknya sesuai dengan gaya hidup jalanan.

Pelacur berwajah cantik datang membeli anggur dan dia tersenyum hangat dan mata yang bening, meladeni pembelian seolah olah pelacur itu hanya ibu rumah tangga biasa. Pelacur pelacur itu juga bersikap sopan dengan seulas senyum, sangat menghormati pria tampan itu. Xiao Liu mengunyah biskuitnya dengan ganas - para pelacur senang membeli anggur pria itu bukan karena ia berwajah tampan, namun karena pria itu tak memperlakukan mereka seperti pelacur.

Setelah bisnisnya sedikit lengang, pria tampan itu membawa sebotol anggur dan berjalan mendekat "Aku masih orang baru disini dan dengan menggunakan resep rahasia turun temurun keluargaku aku membuat anggur untuk mencari penghidupan. Dimasa yang akan datang, maukah saudara Liu mau memerhatikan kedaiku."

Xiao Liu sudah tinggal di Qing Shui selama lebih dari dua puluh tahun dan juga seorang dokter sehingga semua orang menyebutnya Saudara Liu. Paling tidak si pria tampan masih punya tata krama.

Xiao Liu tertawa "Tentu. Dan jika kau tidak bisa membuatnya (Ah Nian) mengandung seorang anak laki laki silahkan cari aku dan aku akan pastikan dia memberikanmu seorang putra." Pria tampan itu membalas tertawa dan membuka botol anggurnya dan dengan sikap sopan menuangkan Xiao Liu secangkir anggur. Dia yang pertama meminum anggurnya "Apa yang terjadi sebelumnya dilakukan secara tidak sopan, apakah abang Liu mau menjadi yang lebih tua dan memaafkan."

Bila seseorang hanya sekedar lewat, maka dia akan terus menghajar dan memukuli orang lain lalu pergi. Namun untuk tinggal dalam waktu lama, bahkan yang paling kuat sekalipun perlu mengesampingkan harga dirinya dan menghormati peraturan diwilayah tersebut. Bila tidak Xiao Liu bisa saja menaruh racun dianggurnya setiap tiga hari sekali, dan menambahkan sesuatu ke dalam daging yang dia beli dari Gao, dan meludahi kue camilannya ...

Xiao Liu melihat pria tampan itu mengerti dan berhenti basa basi "Jika aku yang lebih tua, istrimu tidak akan melakukan hal yang sama." Pria tampan itu menjawab "Ah Nian sepupuku, aku harap abang Liu tidak salah paham." Xiao Liu tersenyum namun tidak meminum anggurnya. Pria tampan itu minum satu gelas lagi. Xiao Liu mengacuhkannya dan tetap mengunyah makanannya.
Pria tampan itu minum enam gelas anggur dan melihat Xiao Liu tetap makan. Dia ingin menuangkan gelas berikutnya namun botol anggurnya sudah kosong. Dia pulang ke kedainya dan kembali lagi dengan botol yang baru dan saat itulah Xiao Liu menatap langsung pria tampan itu "Minta sepupumu untuk minta maaf kepada Lao Mu." Pria tampan itu berkata "Perangai sepupuku tak terbendung. Aku saja yang akan membawa anggur dan minta maaf ke Lao Mu."

"Kau sungguh rela merendahkan dirimu untuk melindungi orang lain. Kau lebih memilih menundukkan kepalamu ketimbang meminta sepupumu menelan harga dirinya."

"Aku yang lebih tua. Apapun yang dia lakukan, aku yang perlu memikul tanggung jawab."

Xiao Liu menundukkan kepalabya dan berpikir beberapa saat sebelum akhirnya tertawa. Dia berdiri, mengangkat cangkir dan meneguk anggur. Dengan tulus dia memuji "Anggur yang bagus!" Pria tampan itu tertawa "Silahkan abang Liu datang lebih sering ke kedaiku nanti."

Xiao Liu menambahkan "Kau tak perlu datang membawa anggur untuk meminta maaf. Cukup kirimkan Lao Mu dua botol anggur yang terbaik." " Baiklah, seperti yang abang Liu katakan saja." Pria tampan itu membungkuk memberikan hormat dan kembali ke kedainya.

Petang hari pria tampan itu datang bersama Hai Tang bahkan menyewa beberapa orang untuk membawa 24 botol anggur menyusuri jalan menuju klinik. Dia melakukan itu agar semua tetangga tau dan melihat bahwa hal ini bisa membuat harga diri Lao Mu kembali. Hai Tang menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Lao Mu, sangat jelas Hai Tang tidak suka melakukannya dan ia melakukannya cukup baik dan pantas sangat sesuai seperti yang biasa dilakukan orang yang berasal dari rumah tangga terhormat.

Lao Mu duduk dengan wajah gelap dan merendahkan diri "Aku tidak sehebat nona muda jadi aku tidak bisa menerima permohonan maafmu."

Pria tampan itu menyuruh Hai Tang untuk pulang lebih dulu dan dia tetap tinggal. Dia berhenti basa basi dan membuka sebotol anggur dan menuangkan dua gelas anggur satu untuknya dan satu untuk Lao Mu. Lao Mu sangat bersahabag dan karena bukan pria tampan itu yang menyinggungnya, dia menerima anggurnya dan mulai minum bersamanya.

Botol demi botol terbuka dan Lao Mu mulai banyak bicara. Dia bahkan mulai bercerita tentang sumpah prajurit dengan pria tampan itu! Lao Mu bukanlah orang yang berpendidikan dan juga tidak bisa membaca. Gaya minum prajurit dia peroleh semasa menjadi prajurit dan itu jauh dari kata bagus namun mengejutkan si pria tampan mengetahuinya.

"Kau minum untuk panggul indah yang mulus, aku minum untuk bibir semerah bunga mawar, kau minum untuk dada putih yang penuh ..." mereka berdua makin lama makin ____ sementara Chuan Zi dan Xiao Liu berdiri sambil ternganga dan Shj Qi duduk diam dengan kepala tertunduk.

Lao Mu meledek Shi Qi "Sangat pemalu dan sopan! Sedikit saja dan telingamu merah?" Xiao Liu melihat bahwa Shi Qi tidak bersembunyi dari Pria tampan yang artinya orang yang dia kenal adalah Ah Nian. Chuan Zi mencolek Xiao Liu "Lao Mu tertawa." Xiao Liu melirik si pria tampan - pria ini jelas seseorang yang perlu dipertimbangkan. Dari laki laki sampai perempuan, elegan sampai awam, dia bisa mengatasi semuanya. Tak heran dia bisa merayu gadis keturunan bangsawan untuk melarikan diri dengannya.

Setelah menghabiskan dua botol anggur, Lao Mu dan pria tampan kelihatan seperti sahabat karib yang kurang hanya sumpah saudara. Setelah mengantarkan pria tampan pergi, dia mengingatkan tentang domba panggang dan anggur lagi. Lao Mu dan Chuan Zi sama sama mabuk jadi Xiao Liu bergegas membersihkan piring. Shi Qi berkata "Biar aku saja, kau pergilah istirahat." Xiao Liu tertawa "Tak bisa membiarkanmu melakukan semuanya."

Shi Qi mencuci piring sementara Xiao Liu membersihkan tungku, tidak sepatah katapun terucap. Shi Qi menoleh beberapa kali namun Xiao Liu tersenyum sambil melakukan swmua pekerjaannya dan bahkan bila pandangannya bertemu dengan Shi Qi dia tidak membuang muka malah membuat wajah konyol sambil tersenyum. Setelah Shi Qi selesai dengan piring piring dia meraih kain dari tangan Xiao Liu, Xiao Liu menahannya "Aku hampir selesai, kau pergi istirahat."

Shi Qi berdiri. Setelah beberapa saat dia bicara "Xiao Liu, kau masih marah."

"Huh?" Xiao Liu pura pura tidak paham "Tidak, Lao Mu sekarang berteman dengan pria tampan itu dan bersedia menerima Ah Nian sebagai adik kecilnya dan membiarkannya menang kali ini, atas alasan apa aku masih marah?" Shi Qi tau Xiao Liu menghindari topik dan menatap kepadanya "Kau tak bicara denganku."

"Bagaimana mungkin? Aku bicara kepadamu setiap hari. Apakah aku tidak bicara denganmu sekarang?"

"Aku ... ingin ... kau seperti sebelumnya. Aku ingin mendengarkanmu bicara."

"Sebelumnya?" Xiau Liu berlagak bodoh "Bagaimana aku berbeda dari sebelumnya? Tidakkah aku memperlakukanmu sama seperti aku memperlakukan Ma Zi dan lainnya?"

Shi Qi menundukkan kepalanya dan tidak bisa beradu kata. Dia hanya bisa menggunakan sikap diamnya untuk menahan diri, suaranya menggambarkan kesendirian. Xiao Liu menggantung kain dan mengusap tangannya ke bajunya "Okay, semua selesai. Saatnya istirahat."

Xiao Liu bergegas masuk kamar, tameng diri dalam hatinya sudah tertutup rapat. Disebabkan oleh rasa iba sesaat yang membuatnya sempat bingung namun sekarang dia kembali bisa berpikir jernih. Setiap orang tiba sendirian dibumi ini dan akan pergi sendirian juga. Tidak ada orang yang bisa diandalkan. Setiap harapan yang dimiliki seseorang, sebangak itu juga derita yang harus ditanggung, ketimbang mengalami semua itu, lebih baik tidak memilikinya sama sekali.

Sejak Shi Qi sementara tidak bisa kembali kerumahnya, maka dia akan biarkan Shi Qi tinggal. Rekan sementara, dan dalam waktu yang singkat ini, kehidupan yang cukup panjang suatu hari juga akan dilupakan.

Semuanya kembali normal dan Lao Mu memperoleh kembali harga dirinya. Dia belanja, dia masak, dia pergi mencari jodoh untuk Chuan Zi. Xiao Liu bukan tipe orang yang suka khawatir sementara kata kata Shi Qi sangat langka seperti emas, meninggalkan Lao Mu dengan semua masalah untuk dibahas dan tidak ada yang bisa diajak bicara. Yang pada akhirnya membuatnya semakin dekat dengan si pria tampan Xuan.

Dia sering singgah dikedai anggur setelah berbelanja dan minum beberapa gelas anggur dan mengeluh ke pria tampan. Putri keluarga Dong tidak menyukai Chuan Zi, dan Chuan Zi tidak menyukai putri keluarga Xi ... beberapa pemabuk dikedai anggur menawarkan ide kepada Lao Mu.
Pasangan hidup Chuan Zi masih belum bisa ditemukan namun istri Ma Zi, Chun Tao melahirkan bayi perempuan yang gemuk dan membuat Lao Mu menitikkan air mata bahagia dan bersumpah akan terus mencarikan Chuan Zi istri. Hari hari biasa dan riuh terus berlangsung seiring waktu seperti air yang menbalir dan kedai minum si pria tampan akhirnya jadi bagian kota Qing Shui dan orang orang disepanjang jalan Xi He akhirnya bisa menerima Xuan dengan tulus.

Xiao Liu pada awalnya heran mengapa Xuan tinggal di Qing Shui namun seiring berjalannya waktu dia lupa berpikir tentang itu dan mencurahkan semua perhatiannya dalam membuat obat.

Xiang Liu terus saja meminta ramuan racun mematikan yang aneh hingga Xiao Liu harus menguatkan diri untuk mengatasinya. Xiao Liu berdiri didepan jendela dan memanjatkan doa ke bulan - berharap Xiang Liu akan tersedak saat makan, tersedak sampai mati saat minum, jatuh saat berjalan dan mati.
Setelah selesai berdoa dia menutup jendela dan baru saja hendak naik tempat tidur dengan membawa harapan menyenangkan ketika dia berbalik dan melihat Xiang Liu berpakaian serba putih berbaring ditempat tidurnya dengan sorot mata dingin memandangnya. Xiao Liu segera berujar "Aku tidak menyumpahimu."

"Kau baru saja menyumpahiku?" Xiang Liu tersenyum dan membengkokkan jarinya. Xiao Liu sela
"Kau baru saja menyumpahiku?" Xiang Liu tersenyum dan membengkokkan jarinya. Xiao Liu selangkah demi selangkah mendekati "Jangan pukul bagian wajah." Xiang Liu tidak menggunakan tangannya malah menggunakan mulutnya, dengan keras dia menggigit leher Xiao Liu dan menghisap darahnya. Xiao Liu menutup matanya dan kali ini tidak seperti sebelumnya yang hanya berupa peringatan. Xiang Liu benar benar menghisap darahnya.

Setelah beberapa saat dia melepaskan Xiao Liu namun bibirnya tetap berada dibekas gigitannya "Takut?"

"Takut!"

"Pembohong!"

Xiao Liu berkata "Malam itu aku tau kau menemukan rahasia tubuhku. Aku pikir kau akan mencari cara untuk memakanku, tapi malam ini kau datang dan yang kau inginkan cuma darahku. Aku tidak takut lagi."

Xiang Liu tersenyum dan berkata "Mungkin sekarang aku hanya mau darahmu, namun suatu hari aku mungkin akan merebusmu untuk menyehatkan tubuhku."

Xiao Liu tertawa dan membentangkan tangannya "Aku sudah menjadi milik tuanku. Tuanku bisa melakukan apa saja terhadapku."

"Kau berbohong lagi!"

Xiao Liu memandang Xiang Liu - malam ini dia kelihatannya berbeda. Rambutnya yang berwarna outih masih rapi tanpa sehelaipun keluar dari ikatannya, pakaiannya yang berwarna putih terlihat sempurna seperti biasanya "Kau terluka."

Xiang Liu membelai leher Xiao Liu seolah olah akan mencari titik baru untuk menggigit "Apa yang sebenarnya kau makan dulu saat kau kecil? Bila iblis menemukan kalau darahmu lebih kuat dalam menyembuhkan dibandingkan ilmu gaib ataupun pil obat, kau akan dimakan sampai tidak ada yang tersisa."

Xiao Liu tertawa namun tidak menjawab perkataan Xiang Liu dan malah balik bertanya "Apa yang membawa tuanku kesini selarut ini?"

Xiang Liu melepaskan jubah luarnya dan berbaring nyaman ditempat tidur Xiao liu "Meminjam kasurmu untuk tidur."

"Kalau begitu dimana aku akan tidur?"

Xiang Liu melirik ke arahnya san Xiau Liu segera berjongkok. Dia mengerti, dia bisa tidur menggeletak dimana saja.

Xiao Liu membelalak dengan marah - itu selimutku, Shi Qi menjemurnya dibawah matahari yang hangat sepanjang hari dan menepuknya sampai lembut. Xiao Liu membungkus tubuhnya dengan selimut dan meringkuk seperti bola diujung tempat tidur dan dengan hati kesal jatuh tertidur.

Ditengah malam, Xiao Liu merangkak ke atas tubuh Xiang Liu dan dia membuka matanya (XL). Xiao Liu memegang lehernya dan tertawa liar "Kau menggunakan kekuatanmu untuk menyembuhkan dirumu, benarkan? Jangan terganggu dan berhenti kalau tidak kau akan memperparah cederamu dan bahkan mungkin akan kehilangan kekuatanmu dan kehilangan ingatanmu." Xiang Liu menutup matanya.

Xiao Liu menampar pipi kirinya "Bagaimana kalau aku mencambukmu 40 kali? Xiao Liu menampar pipi kanannya "Kau iblis bodoh, kau tidak takut sakit. Kalau aku memotong tangan kirimu kau mungkin akan membakarnya dengan tangan kananmu dan memakannya."

"Hee hee ..." Xiao Liu melompat dari atas tempat tidur dan berlari menuju dapur untuk mengambil arang dari tungku. Dia meluncur kembali ke kamar dan melomlat naik tempat tidur "Bahkan orang seperti dirimu mengalami hari seperti ini! Jangan marah dan fokuslah memulihkan dirimu, jangan biarkan aku mengalihkan perhatianmu!" Xiao Liu memegang arang dan dengan hati hati mulai menggambari wajah Xiang Liu.

Setelah Xiao Liu selesai dan puas dengan hasilnya, dia memegang cermin berharganya dan menempatkannya diwajah Xiang Liu. "Lihatlah namun jangan marah karena akan merusak peredaran energi." Xiang Liu membuka matanya yang terlihat lebih tajam dari mata pisau namun Xiao Liu sedang senang "Lihat!"

Didalam cermin, tepat dibawah mata kiri Xiang Liu ada tiga mata, dibawah mata kanan ada tiga mata, dan ada satu mata dikeningnya. Xiao Liu menghitung "Satu, dua, tiga .... total ada sembilan."

Dengan menggunakan ujung jarinya yang menghitam, Xiao Liu mengusap mata mata itu dan merubahnya menjadi kepala, sembilan mata menjadi sembilan kepala. Xiang Liu menatap padanga dan Xiao Liu menautkan alisnya "Aku benar benar tidak bisa membayangkan bagaimana penampakan sembilan kepala. Suatu hari seperti ini kau harus menunjukkanku wujud asli padaku!” Bibir Xiang Liu bergerak menirukan kata “Aku akan memakanmu.”

Dengan ujung jarinya yang kotor Xiao Liu mengusapkan jarinya ke bibirnya “Kalau kau tidak keberatan menjadi kotor silahkan makan.”

Xiao Liu melompat turun dari dipan dan menyetarakan kepalanya dengan kepala Xiang Liu dan menatapnya “Aku akan pergi, tak usah mencariku. Aku akan menghilang untuk beberapa hari sampai marahmu hilang. Saat kau mengingat tentang sisi baikku maka aku akan kembali.” Xiao Liu mengambil sedikit makanan ringan dari dapur dan baru saja hendak pergi ketika melihat Shi QI.

Xiao Liu baru saja menyiksa Xiang Liu jadi perasaannya sedang senang, dia melambai ke arah Shi Qi dan tersenyum cerah. Shi Qi mempercepat langkahnya dan ada binar bahagia dimatanya sampai ia melihat bekas gigitan dileher Xiao Liu. Untuk alasan dan tujuan apa gigitan itu terlihat seperti bekas ciuman. Shi Qi melemparkan pandangan ke arah kamar Xiao Liu dan binar dimatanya meredup. Xiao Liu memberitahu Shi Qi “Xiang Liu ada dikamarku. Jangan ganggu dia dan biarkan dia beristirahat. Dia akan pergi ketika terjaga. Ada sesuatu yang harus kulakukan jadi aku akan pergi. Bilang ke Lao Mu untuk tidak mencariku.”

Xiao Liu pergi tanpa menunggu jawaban Shi Qi, sambil berpikir dimana ia akan bersembunyi sehingga iblis Xiang Liu tidak bisa menemukannya. Kemana biasanya aku tidak akan pergi? Selagi dia berpikir dan berjalan dia sampai ke kedai anggur si pria tampan.

Matahari belum lagi terbit ketika dia menyelinap ke dalam kedai. Dia melakukannya tanpa terlihat dan merasa cukup bangga pada diri sendiri. Dia sedang tidur bersender ke sebuah guci anggur ketika dia mendengar Xuan mengambil sejumlah anggur dan mendengar suara pembicaraan.

“Bagaimana keadaan mereka?”

“Tiga orang mati dan satu melarikan diri. Tuan, bukannya kami tidak berguna tapi saat itu iblis Xiang Liu mengetahuinya. Namun tiga orang kita mengambil resiko dan berhasil melukainya.”

“Xiang Liu terluka?”

“ orang orang kita digunung paham bahwa ini saat yang tepat untuk menghabisi Xiang Liu sepenuhnya namun dia tidak bisa ditemukan.”

“Hhhmmmm.”

“Pelayanmu harus pergi sekarang.”

Pintu bilik anggur tertutup dan kesunyian melanda. Xiao Liu akhirnya bisa bernafas lega. Dia kembali tidur, tanpa merasakan ada yang salah. Jendral Gong gong dan Xuan Yuan sudah berperang selama ratusan tahun. Pada awalnya, kaisar kuning mengirimkan prajurit bantuan, namun daratan tengah masih belum bisa ditaklukkan, Gao Xing juga bukan sekutu, Gong Gong memiliki keuntungan dari segi wilayah sehingga kaisar kuning selalu kalah dalam semua pertempuran. Yang hanya bisa dia (KK) hanyalah menekan dan menunggu kapan Gong gong akan menyerah.

Perang akhirnya berubah dari perang terbuka menjadi serangan rahasia dan pembunuhan skematis... persetan Xiao Liu tak bisa memahaminya, seseorang sudah mencoba melakukannya.

Xuan Yuan bahkan mengumumkan sayembara, dan Xiang Liu menjadi buronan nomor satu, bahkan lebih tinggi dari jenderal Gong gong. Alasannya sangat aneh – Gong gong adalah keturunan bangsawan dari Sheng Nong sehingga apabila seseorang membunuhnya untuk memburu hadiah maka hal ini akan menimbulkan kemurkaan seluruh dunia. Namun Xiang Liu – tidak masalah, dia hanya iblis, dan iblis kepala-sembilan yang sadis. Jadi membunuhnya untuk mendapatkan uang tidak akan menyebabkan seseorang tidak bisa tidur.

Apakah Xuan Yuan memerlukan uangnya atau hal lain, Xiao Liu tak perlu pusing memikirkannya. Segala hal di dunia ini bisa dibayar dengan uang dan kekuasaan.

Xiao Liu bersembunyi dibilik anggur selama tiga hari dan pada hari keempat dia menyelinap masuk ke dapur untuk mengambil makanan. Dengan mulutnya yang penuh daging angsa dia mendengar suara Xuan dibelakangnya “Mau minum anggur sekalian?”

Xiao Liu membeku dan menoleh kebelakang, melihat Xuan bersandar dipintu dapur dengan ramah memandang Xiao Liu.

Xiao Liu terkikik “Aku ... makananmu lebih lezat dibandingkan masakan Lao Mu.”

“Kalau hangat maka akan lebih enak.”

“Erm ... kalau gitu hangatkan.”

“Tentu.”

Xuan meletakkan makanan diatas tungku dan menyalakan api. Xiao Liu duduk disampingnya dan Xuan menuangkan secangkir anggurndan Xiao Liu meneguk dengan perlahan. “Kalau suka kau boleh minum lagi.”

“Uhm... terimakasih.”

Xuan menyodorkan makanan yang sudah dihangatkan kepada Xiao Liu dan duduk disamping Xiao Liu yang sedang berpikir bahwa kalau saja ini bukan tengah malam dan datang tanpa diundang, situasi ini pasti akan lebih hangat dan mengundang.

Xiao Liu bertanya “Ah Nian yang memasaknya? Dia juru masak yang handal.”

“Ah Nian Cuma tau makan.” Suara Xuan mengandung irama yang lembut.

“Tak percaya kau pandai memasak dan membuat anggur. Ah Nian sungguh beruntung.”

“Dia memanggilku abang (sulung), tentunya aku harus menjaganya.”

“Aku tak melihatnya belakangan ini.” Sebenarnya bukan belakangan saja, dia bahkan memang tidak pernah terlihat lagi.

Xuan tertawa “Abang Liu merindukannya?”

“Ttidak tidak, hanya bertanya.” Lebih baik tak usah bertemu dengannya.

“Aku memintanya menyulam tirai pembatas jadi dia sedang bekerja dikamarnya.”

Xiao Liu terkejut mengetahui alasan perempuan iblis itu sangat diam adalah karena Xuan mengecohnya dengan memberikannya kesibukan.

Xuan kelihatannya paham apa yang dipikirkan Xiao Liu “Di masa yang akan datang jika Ah Nian melakukan hal yang kasar, aku minta tolong agar abang Liu memaafkannya dan anggaplah ia hanya seorang gadis.”

Dimasa datang? Ada masa yang akan datang ... jadi dia tidak akan menyingkirkannya diam diam malam ini? Xiao Liu tersenyum “Tak masalah, tak masalah, aku pasti akan melakukannya.” Xuan berdiri dan dengan sungguh sungguh bertanya lagi apakah Xiao Liu akan melepaskan Ah Nian bila ia melakukan kesalahan dan menjadikannya janji Xiao Liu. Xiao Liu mendesah “Sangat beruntung menjadi adik (perempuan)-mu.”

Mungkin kalimat ini adalah kalimat yang paling tulus yang dilontarkan oleh Xiao Liu malam itu bahkan Xuan bisa merasakannya. Topeng senyuman yang dia jaga dari awal akhirnya hilang dan dia berkata “Tidak. Aku bukan abang yang baik.” Dibalik kata katanya tersembunyi kesedihan. Xiao Liu meminum anggurnya “Aku akan pulang.”

Xuan berkata “Aku akan mengantarkanmu keluar.” Xiao Liu berdiri dan Xuan mendampinginya “Datanglah ketika kau punya waktu.” “Okay, kau masuklah, tak usah menemaniku lebih jauh.”
Xiao Liu berlari dengan ---- dan melompati dinding halaman belakang dan menyelinap masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Seseorang bangkit dari tempat tidur dan Xiao Liu terkejut dengan punggungnya bersandar kepintu.

Baik berbaring maupun berdiri sudah pasti mati jadi mari selesaikan dengan cepat. Xiao Liu menutup matanya dan gemetar “Aku ... aku mengaku salah.”

Seperti seekor kucing, menggunakan suara selembut mungkin untuk mencuri hati sang majikan, berharap bahwa Xiang Liu akan mempertimbangkan kemampuannya membuat racun dan darahnya yang bisa menyembuhkan, dan mungkin dia tidak akan dipukuli sampai mati. Kecuali... setelah beberapa saat, masih tidak ada pergerakan.

Jantung Xiao Liu berdebar dengan sangat kencang dan akhirnya tidak sanggup lagi menahan dan ia membuka matanya. Itu. Ternyata. Cuma. Shi. Qi.

 Xiao Liu murka! Dia ketakutan setengah mati! Dia menuding Shi Qi dan membengkokkan jarinya “Kau.. bagaimana itu kau?” Wajah Shi Qi pucat dan suaranya bimbang “Aku minta maaf apabila kau kecewa.”

“Apa yang kau lakukan dikamarku?”

Shi Qi menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya dan berbalik pergi. Xiao Liu dengan cepat mencoba minta maaf “Aku minta maaf, aku pikir kau orang lain. Itu ... itu ... nada suaraku kasar namun tolong jangan merasa sedih. Aku tidak melarangmu masuk ke kamarku.”

“Ini salahku.” Shi Qi berlalu dan berjalan keluar, menutup pintu dengan rapat dibelakangnya.
Xiao Liu tidak tidur nyenyak selama beberapa hari dan dengan cepat membuka bajunya dan memakai selimut. Dia menutup matanya dan menghirup nafas dalam dalam – bersih, hangat, aroma lembut sabun dan matahari.

Selimut sudah dicuci dan dijemur dibawah matahari. Xiao Liu tertawa dan mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu terbiasa dengan situasi ini. Semuanya akan pergi dan dia tidak boleh lengah, hidupnya adalah untuk tidur dibawah selimut yang dingin dan kotor. Xiao Liu selesai mengingatkan dirnya sendiri sebelum membalikkan badan dan terlelap.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sorry, got no time to edit, will do it one day in the future ^_^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

No comments:

Post a Comment

Death Exist Not at the River of Oblivion - Chapter 10

Chapter 10: Sulit sekali mencintaimu di kehidupan kali ini Aku tak melihat sosok Zhonghua lagi sejak hari itu. Kelihatannya dia benar-be...