Thursday, 3 August 2017

Lost You Forever - Chapter 3 (part 1) -Tong hua (Indonesian Bahasa)

Chapter 3 (part 1)

Tamu dari jauh

Tukang daging Gao cuma punya satu anak dan Ma Zi tidak punya orang tua, setelah menikah Ma Zi menjadi otomatis menjadi putra Gao dan lebih sering membantunya. Secara perlahan Ma Zi lebih sering tinggal dirumah Gao dan jarang berada di klinik.

Chuan Zi menertawakan kepintaran Gao, sudah dapat uang dari pernikahan putrinya malah sekarang dapat seorang putra. Xiao Liu dan Lao Mu tak peduli - bagi Xiao Liu memiliki satu Shi Qi sama nilainya dengan sepuluh Ma Zi, dan bagi Lao Mu dia sudah cukup bahagia melihat Ma Zi menjalani kehidupannya dengan damai.

Jadi ketika suatu hari Ma Zi dilarikan ke klinik oleh Gao dan Chun Tao, Lao Mu hampir tak percaya dan Xiao Liu mengerutkan keningnya. Kalau Chuan Zi yang dipukuli, Xiao Liu tak akan heran. Chuan Zi terkadang bisa seperti bajingan dan kadang-kadang pantas untuk dipukul. Berbeda dengan Ma Zi, meskipun memiliki postur tubuh yang tinggi dan kuat namun Ma Zi merupakan pria yang menggunakan akal sehat dan mau mengalah.

"Apa yang terjadi?" Lao Mu bertanya. Chun Tao mengusap air matanya dan menjelaskan "Setelah memotong domba pagi ini, aku sedang mengantarkan darah domba, secara tak sengaja aku menyenggol seorang wanita muda. Aku sudah minta maaf kepadanya dan menawarkan kompensasi untuk mengganti kerugiannya namun pelayan dari wanita muda itu berteriak bahwa aku tak akan mampu membayarnya. Ayah jadi gugup setelah beberapa saat kalimat berubah menjadi pukulan. Ma Zi mencoba melindungi ayah dan berakhir dipukuli.

Kota Qing shui tidak punya sistem pemerintahan atau hukum dan hukum yang berlaku adalah bagaimana bertahan hidup.

Chuan Zi sudah cukup mendengar dengan membawa tas persediaan obat ia pergi. Chuan Zi bertubuh kurus saat kecil dan Ma Zi yang mengurusnya. Mereka bertengkar sepanjang hari namun hubungan mereka sangat dekat melebihi saudara kandung. Xiao Liu berseru "Lao Mu" dan Lao Mu segera mengejar Chuan Zi.

Luka Ma Zi tidak terlalu parah dan setelah selesai diperban, baik Lao Mu maupun Chuan Zi belum juga kembali, dia bicara kepada Chun Tao "Kau rawatlah Ma Zi, aku akan pergi  melihat Lao Mu dan Chuan Zi."

Gao mengambil pisau dagingnya dan hendak ikut namun Xiao Liu tertawa "Usahamu tidak boleh terganggu jadi pergilah kembali bekerja. Lao Mu dan aku yang akan mengurusnya."

Shi Qi mengikuti Xiao Liu dan ketika mereka sampai dipenginapan mereka melihat Lao Mu sedang berduel dengan seorang gadis berbaju kuning. Chuan Zi tergeletak ditanah dan ketika dia melihat Xiao Liu dia menggerutu “Abang Liu, bukan aku yang memulainya. Sebelum aku bisa mendekat aku sudah dipukuli.”

Xiao Liu mengalihkan pandangannya dan melihat Lao Mu yang sedang berduel dengan seorang gadis berpakaian kuning dan melihat dengan jelas bahwa Lao Mu bukanlah tandingannya. Gadis itu seperti sedang bermain-main dengan seekor monyet dan ada seorang gadis yang berada disebelahnya berdiri diatas tangga batu. Gadis itu tertawa dan sesekali memerintahkan "Hai Tang, aku mau lihat dia jatuh dengan bokongnya." Dan gadis berbaju kuning itu benar benar membuat Lao Mu jatuh dengan bokongnya. Gadis muda itu terkikik dan bertepuk tangan "Melompat, aku ingin dia melompat seperti katak."

Lao Mu tak bisa mengontrol tubuhnya dan dia dipaksa melompat seperti katak seolah-olah seseorang memaksanya melakukan itu. Gadis muda itu semakin terbahak-bahak dan orang orang yang menonton juga ikut tertawa.

Xiao Liu merangsek ke depan dan membungkukkan badannya ke gadis muda itu sebelum menoleh ke Hai Tang "Dia sudah kalah, apakah nona muda bisa berhenti?"
Hai Tang menoleh ke arah gadis muda namun si gadis muda nampak tak perduli "Aku mau lihat dia jumpalitan." Lao Mu kemudian berjumpalitan ditanah sementara si gadis muda tertawa dan penonton juga tertawa.

Xiao Liu dengan tenang berbicara "Aturan di kota Qing Shui adalah berhenti saat tidak ada pertumpahan darah." Gadis muda itu menoleh ke arah Xiao Liu "Hukum bagiku adalah siapapun yang menggangguku harus mati! Xuan Gege (1) bilang padaku untuk tak melukainya jadi aku tak akan melukainya, tapi aku akan membuatnya melakukan beberapa trik."
1.      Gege adalah kakak laki-laki

Lao Mu tua dulunya adalah tentara yang punya banyak sekali pengalaman bertempur dan yang tampak saat ini adalah air mata yang tertahan dimatanya, sambil memandang Xiao Liu dia berkata "Bunuh aku!" Meskipun Lao Mu adalah tentara yang melarikan diri dari pasukan Xuan Yuan namun alasan dia melarikan diri adalah karena dia sudah muak dengan perang yang tak berkesudahan dan dia bukan melarikan diri karena harga diri. Pada saat yang sama rasa ingin membunuh Xiao Liu memuncak dan dia melangkah maju.

Sesaat Lao Mu berhenti jumpalitan dan Chuan Zi segera menghampirinya dan membantunya berdiri. Gadis muda itu tak senang "Hai Tang, apakah aku mengijinkanmu berhenti?" Hai Tang melemparkan pandangan ke Shi Qi yang berdiri dikerumunan "Bukan aku yang melakukannya nona!" Dia berjalan mundur dan perlahan menempatkan dirinya dihadapan si gadis muda sambil terus menatap Shi Qi.
"Kalau bukan kau, lalu siapa? Kaum rendahan apa yang berani-beraninya?" Gadis muda itu ingin menyingkirkan Hai Tang dari hadapannya namun Hai Tang dengan erat menahan si gadis dan berujar dengan nada pelan "Orang itu punya kekuatan yang lebih besar dari aku. Mari kita tunggu tuan Xuan kembali." Hai Tang menarik si gadis dan dengan cepat berlalu masuk ke penginapan. Xiao Liu memandang kepergian mereka dan tersenyum dan bergumam pelan "Sampai jumpa di klinik."

Lao Mu cukup punya nama di kalangan orang jalanan dan penghinaan yang dia alami hari ini membuat wajahnya suram, dia langsung masuk kedalam rumah tanpa sepatah kata. Xiao Liu paham betul bahwa  dia tak akan mampu membujuk Lao Mu jadi dia hanya berpesan kepada Chuan Zi untuk terus mengawasi Lao Mu kalau kalau ia mencoba bunuh diri karena menahan rasa malu.

Xiao Liu duduk didepan sebuah salon sementara Shi Qi berdiri di salah satu sudut, tersembunyi dalam bayang-bayang. Xiao Liu memainkan sebuah cangkir anggur ditangannya dan berujar  "Lao Mu, Ma Zi dan Chuan Zi, mereka semua berpikir aku adalah orang yang baik.  Namun sebenarnya aku telah membunuh sejak aku masih sangat muda.... aku sudah lama tidak membunuh seseorang namun hari ini aku ingin sekali membunuh mereka."

"Mereka itu dari kaum dewa." Shi Qi tiba tiba bicara.

"Memang kenapa?" Xiao Liu tidak gentar.

Shi Qi diam. Xiao Liu meliriknya "Apakah kau akan membantuku?" Shi Qi mengangguk. Xiao Liu tersenyum dan perasaan ingin membunuhnya langsung lenyap. Xiao Liu minum sebotol anggur dan akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu muncul juga.

Gadis muda itu membuka cadarnya dan wajahnya cukup cantik namun dengan sepasang mata yang sangat ekspresif menambah keelokannya dari angka 5 ke angka 8. Pria yang berdiri disampingnya sangat tampan - matanya sangat hangat dan pembawaannya berwibawa tenang seperti aliran sungai dan kokoh seperti gunung.

Pria itu membungkuk memberi hormat kepada Xiao Liu "Aku Xuan dan ini sepupuku Ah Nian. Pelayan kami Hai Tang telah diracuni oleh Tuan Muda jadi aku datang secara pribadi untuk meminta penawarnya."

Xiao Liu memainkan botol anggurnya dan dengan senyuman berkata "Tentu, kalau seseorang mau berlutut dan meminta maaf kepada saudara tertuaku."

Ah Nian memelototi Xiao Liu "Kau mau pelayanku meminta maaf ke abang tertuamu, apakah kau bosan hidup?"

Xiao Liu memandang Hai Tang yang tampaknya sangat kesakitan sambil memegangi dinding dan perlahan roboh kelantai. Ah Nian merajuk "Xuan Gege, kau lihat! Mereka datang mencari masalah. Aku tidak melukai mereka dan hanya sedikit main-main namun mereka ingin membunuh kami. Kalau saja aku tidak membawa ... mutiara anti racun ayahku maka aku juga pasti akan terkena racun."
Hai Tang tersedak karena kesakitan dan Xuan membelalak ke arah Xiao Liu "Tolong berikan kami penawarnya!"

Xiao Liu tertawa dingin "Apa? Mau ambil secara paksa? Silahkan kalau begitu!"

Xuan mencoba mengambil tas obat dan Xiao Liu mundur. Xiao Liu tau Shi Qi ada dibelakangnya dan bila Shi Qi bisa menghadang Xuan maka Xiao Liu bisa mengamati jenis kekuatan seperti apa yang dimiliki Xuan dan racun apa yang sesuai untuk meracuni Xuan. Namun Shi Qi tidak maju dan ketika Xiao Liu menoleh ke belakang Shi Qi tidak ada.

Xiao Liu diserang oleh Xuan dan roboh. Xuan terkejut melihat Xiao Liu ternyata sangat lemah sebab penampilannya sangat sangar dan dengan cepat menarik kembali kekuatannya. "Maaf, aku tidak tau kau ... " Dia mengangkat Xiao Liu dan memeriksa lukanya dan lega karena dari awal Xuan tidak berniat untuk mencederai jadi  Xiao Liu hanya mengalami keterkejutan saja. Xiao Liu bersandar dibahu Xuan dan sekilas senyuman tersungging dibibirnya dan dimatanya terlintas rasa kecewa. Terkadang kita hanya bisa menertawakan dunia.
Xuan terdiam.

Ah Nian mengambil botol penawar dan meminumkannya ke Hai Tang yang dengan patuh menelannya "Ini penawarnya." Ah Nian mencemooh Xiao Liu "Kau selemah ini dan kau berani melawan kami?"
Xiao Liu mendorong Xuan dan berjuang bangkit "Persetan!"

Ah Nian hendak menyerang namun Xuan menghentikannya "Karena racun sudah disembuhkan, sudah saatnya kita pergi." Dia melihat ke arah Xiao Liu sekali lagi dan menyeret Ah Nian. Ah Nian menoleh ke belakang dan dengan bibirnya melontarkan perkataan menghina "Pecundang lemah!"
Xiao Liu berjalan dihalaman dan duduk diatas batu pijakan dan Shi Qi berjalan dibelakangnya. Xiao Liu tersenyum memandang matahari terbenam dan menarik nafas panjang. Dia merasa kalah, mestinya dia tidak perlu mengandalkan orang lain.

Shi Qi berlutut disebelah Xiao Liu dan menyodorkan wadah makanan ringan. Xiao Liu bertanya "Kau mengenal mereka?" Shi Qi mengangguk. "Mereka adalah gadis muda dan tuan muda bangsawan dari suku dewa?" Shi Qi terdiam sesaat sebelum mengangguk dengan berat. "Kau takut mereka akan mengenalimu jadi kau bersembunyi? Atau kau berpikir aku tak seharusnya berurusan dengan mereka sehingga kau bersembunyi agar mereka bisa mendapatkan obat penawarnya?"

Shi Qi menundukkan kepalanya dan Xiao Liu melempar keranjang snack dan sepiring leher dan ceker angsa berserakan di atas tanah. Xiao Liu berjalan keluar dan ketika Shi Qi mencoba mengikuti "Jangan ikuti aku!" dan suara keras Xiao Liu membuatnya berhenti.

Xiao Liu berjalan ke tepi sungai dan memandang riak airnya. Dia tidak marah kepada Shi Qi yang membiarkan Xuan mendapatkan obat penawar. Dia marah kepada diri sendiri karena ia mengandalkan seseorang yang ketika dia menoleh kebelakang dan orang yang dia andalkan tidak ada. Dia marah pada dirinya sendiri karena memiliki harapan yang menyedihkan. Xiao Liu melompat ke dalam sungai dan berenang ke hulu. Sungai makin lebar dan arusnya makin deras.

Air sungai yang dingin melewati apa saja, siang dan malam, tak pernah berhenti. Xiao Liu membiarkan dirinya terhanyut dan merasakan ketidakberdayaan. Terdengar suara tertawaan yang datangnya dari arah atas dan Xiao Liu mendongakkan kepalanya, Xiao Liu melihat Xiang Liu dengan gagah menunggangi elang berbulu putih keemasan dan melihat kebawah "Mancing malam hari?"

Xiang Liu mengulurkan tangannya dan Xiao Liu menggapainya dan melompat kepunggung elang. Elang terbang menuju angkasa dan mencapai awan, Xiao Liu dalam keadaan basah dan menggigil kedinginan. Xiang Liu menyodorkan sebotol anggur dan dengan cepat ia menyesapnya. Kandungan alkohol yang keras langsung mengurangi sedikit rasa dingin.

Xiang Liu menoleh ke belakang dan memandang Xiao Liu yang keberaniannya sedikit bertambah akibat pengaruh alkohol yang baru saja dia minum "Apa yang kau lihat? Aku bukannya perempuan?"
"Hanya sedikit dewa yang punya tunggangan bersayap. Bahkan dewa yang punya kekuatan besar, ketika menunggangi kendaraan bersayap mereka akan merasa gugup. Tapi kau ... kau sangat nyaman dan terlalu tenang."

"Lantas kenapa?"

"Aku baru menyadari kalau aku makin penasaran dengan masa lalumu."

Xiao Liu menelengkan kepalanya dan menenggak lebih banyak anggur.

"Kau kesal kepada siapa?" "Bukan urusanmu!"

"Apa kau pengen dicambuk?"

Xiao Liu dengan kesal mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Elang terbang menuju danau, bulan menggantung dilangit hitam dan sinarnya terpantul diatas air sehingga tampak seperti perak yang berkilauam sangat tenang dan waktu sepertinya berhenti berjalan.

Xiao Liu mengembalikan botol anggur ke Xiang Liu dan berdiri. Dia merentangkan tangannya dan melawan angin sebelum terjun kedalam danau seperti bintang jatuh. Xiang Liu bergerak dan elang juga mengikuti.

Xiao Liu seperti seekor kupu kupu indah yang jatuh kedalam air berwarna perak dan menghilang didalam air. Air beriak ditempat ia jatuh dan ketika riak air yang paling besar lenyap ketika itulah Xiao Liu meluncur terbang dari dalam air seperti naga terbang. Lengannya memegang erat leher elang dan dia bertanya "Kau bisa berenang? Mau lomba?" Xiang Liu mengejek.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
dikarenakan novel ini perchapternya cukup panjang, ke depannya aku memutuskan untuk membaginya dalam beberapa bagian, jadi update-nya bisa lebih sering. karena selain Lost You Forever aku juga sedang nerjemahin Sansheng

#novel_terjemahan
#novel_cina
#Tonghua
#suka_baca

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------






No comments:

Post a Comment

Death Exist Not at the River of Oblivion - Chapter 10

Chapter 10: Sulit sekali mencintaimu di kehidupan kali ini Aku tak melihat sosok Zhonghua lagi sejak hari itu. Kelihatannya dia benar-be...