Wednesday, 23 August 2017

Death Exist Not at the River of Oblivion - Chapter 7

Chapter 7 : Pagoda seribu-gembok sudah runtuh

Dalam reinkarnasi kali ini, pendeta agung adalah jelmaan dari seekor iblis serigala bernama Hu’yi.
Meloncat naik dan turun, aku merobek semua kertas mantra yang ada ditubuhnya, dia menatap semua hal yang kulakukan dengan tampang terpana.

“Secara manusiawi ini tidak mungkin?” tanyanya.

Aku memainkan rambutku, melambaikan tanganku untuk membebaskan borgol ditubuhnya, dan sambil tergelak aku menjawab: “Oh, bisa dibilang aku kan bukan manusia.”

Borgol ditubuhnya putus dalam beberapa bagian dan jatuh dilantai pagoda. Hu’yi mengambang diudara, rambutnya yang berwarna putih tergerai dan matanya yang berwana hijau berkilau. Aku tak memusingkan bagaimana suasana hatinya yang pasti dipenuhi dengan kebahagiaan. Aku menjentikkan jariku sambil berkata padanya, “lakukan saja seperti yang aku minta barusan dan kau bisa bebas pergi kemana saja. Ayo!”

Namun Hu’yi diam untuk beberapa saat. “Sekali seseorang masuk ke dalam pagoda seribu-gembok gunung Liubo, maka dia tidak akan bisa keluar lagi.”

“Tidak bisa keluar?” aku melihatnya dengan tidak yakin. “Aku belum lama tinggal di dunia manusia, namun paling tidak aku tau bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menjual dirinya. Hanya boleh masuk tapi tak  boleh keluar sungguh hal yang tidak diperbolehkan, buruk sekali. Tidakkah menurutmu pendeta-pendeta gunung Liubo keterlaluan?”

“Memang kenapa kalau hal ini konyol?” di dunia ini, yang paling kuatlah yang menentukan.
“Aku suka kalimat ini.” Aku tertawa. “Baiklah, kita hancurkan saja pagoda ini, bolehkah?”
Dia memandangku kaget.

Aku menyeringai dari ujung telinga kiri sampai ke kanan: “Tadi kan kau bilang yang paling kuatlah yang menentukan?”

Jauh di masa yang akan datang, Yanwang sangat bersemangat ketika bicara tentang hal ini.  “Kau benar-benar punya watak yang keras, iya kan? Sekali kau bilang akan menghancurkan danau sihir dan pagoda seribu-gembok maka kau segera mewujudkannya begitu saja, sampa membuat danau dipenuhi dengan kegelapan sama dengan sungai Wangchuan. Apakah kau tau berapa banyak hukuman yang Tuan Moxi tanggung untukmu? Karena ini, kehidupannya yang akan datang semakin sulit dilalui.”

Namun ketika itu aku tidak tau konsekuensi perbuatanku dimasa depan. Dengan mengandalkan kekuatanku, aku membuat kerusakan diseluruh danau.

Sekeliling gunung Liubo bergoncang malam itu, murid-murid gunung Liubo terbangun dari tidurnya. Dan kemudian ... anak-anak gunung Liubo dipukuli dampai menangis sepanjang malam.
Tangisan hilang dan timbul tak berkesudahan.

Di suatu tempat tersembunyi, ketika Hu’yi menjalankan misinya, aku tertawa terbahak-bahak sambil berusaha menutupi mulutku. Ketika kami menemukan Chang Wu, aku menepuk bahu kiri Hu’yi: ‘tiga bulan! Tiga!”

Hu’yi mengerti maksudku, menerjang Chang Wu, menurunkan celananya didepan semua orang dan memberikannya dua pukulan di bokong. Bokong Chang wu bengkak cukup parah. Anak yang biasanya kejam ini sekarang ketakutan setengah mati. Hanya ketika sakitnya terasa barulah air matanya berlinang bersamaan dengan ratapannya yang melengking.

Aku menonton dengan senang hati namun sedikit merasa bersalah pada akhirnya. Aku menendang bokongnya yang sudah bengkak dua tendangan sebelum mengibaskan tanganku kepada Hu’yi agar dia melepaskan Chang Wu.

Hu’yi mengerucutkan bibirnya.

“Apa?”

“Kau baru saja membuat anak itu tidak bisa turun dari tempat tidur selama enam bulan.”

“Ooops!” Aku menutup mulutku dengan kaget. “Apakah aku menendang terlalu kuat?”

Dia menoleh kepadaku. “Menurutmu?’

Aku menggaruk kepalaku dan tertawa tak bisa berkata-kata lagi.

Ketika dia melihat satu anak yang belum dipukul merunduk dan menangis di salah satu pojok, Hu’yi berbalik dan manarik bajunya. Dengan cepat aku menahan Hu’yi. “Jangan dipukul ...” anak ini.

Aku belum menyelesaikan kalimatku ketika sebuah guntur terlihat diangkasa. Hu’yi dan aku terlonjak, sama-sama memandang ke langit.

Pendar di pergelangan tanganku segera memberitau siapa yang datang.

Sudah jelas Moxi, atau yang agung Zonghua sebagaimana ia disebut dalam kehidupan kali ini.

Dia meringis melihat ‘anak-anak’ terkapar disekeliling halaman sambil menangis memegangi bokong mereka. Matanya menerawang melihatku dan berakhir ke Hu’yi. Rambut ditengkukku meremang kala kulihat mereka saling bertatap mata.

Dibelakang Moxi segera menyusul bayangan-bayangan para tetua gunung Liubo.

Wajah-wajah mereka nampak sangat tegang melihat kondisi murid-murid mereka yang menangis dimana-mana. Ketika pandangan mereka tiba kepadaku dan Hu’yi, wajah mereka semakin tegang. Situasi berubah semakin kisruh.

Suara-suara mereka membuatku senewen. Aku berkata kepada Hu’yi, “Aku akan memenuhi janjiku. Karena kau telah membantuku membalaskan dendamku, aku akan membantumu untuk melarikan diri. Sudah jelas bagiku bahwa kau tidak suka berada disini. Pergilah, kemana pun kau suka.”
Belum lagi Hu’yi memberikan respon, seorang pendeta tua dengan jenggot berwarna putih berdiri sambil mengacungkan telunjuknya sambil menyumpah: “Kau pikir gunung Liubo tempat kau bisa datang dan pergi sesukamu?! Iblis Hu’yi! Yang Agung sudah mengampuni kesalahanmu dan masih mempertimbangkan ikatan di masa lalu, tapi mengapa kau melakukan hal yang menghina gunung Liubo seperti ini?”

Aku menyimpulkan beberapa hal dari perkataan pendeta tua itu. Pertama, Hu’yi kenal dengan Moxi di masa lalu; kedua, Hu’yi mungkin dikurung di pagoda oleh Moxi; ketiga ... meskipun sangat membenci iblis, Moxi tidak membunuh Hu’yi. Pasti ada kisah yang tidak aku tahu dibalik semua ini!
Aku menyilangkan tanganku didepan dada dan berdiri memerhatikan disatu sisi, melihat semua kejadian yang berlangsung. Sayangnya tidak ada tempat duduk, tidak ada makanan atau makanan ringan. Mengurangi rasa senangku.

Hu’yi mencemooh: “Aku tak pernah minta kepada Yang Agung untuk membiarkanku hidup selama akau dikurung seumur hidup. Aku lebih suka mati dan hidup kembali agar aku bisa bebas dari kehidupan yang seperti neraka ini.”

Dengarlah, dengar.

“Iblis yang tidak tau berterimakasih!” selesai  berteriak, pendeta tua itu menarik pedangnya dari sarung dan menerjang Hu’yi.

Aku-lah yang telah membebaskan Hu’yi, namun Hu’yi belum juga bisa pergi. Ini sama saja seperti menjanjikan sesuatu kepada pelanggan tapi barangnya tidak ada. Kalau barangnya tidak ada, maka perjanjiannya batal. Aku adalah orang yang berintegritas, tentu saja aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi.

Aku menarik Hu’yi ke belakangku dan balik menerjang ke arah pendeta tua. Aku menyadari kalau Hu’yi terus berada didekatku lama-lama dia akan hanya menghambat gerakanku. Aku harus membiarkannya pergi secepat mungkin. Merenggut kerah baju Hu’yi, aku melemparkannya ke udara sambil berkata: “Pergilah!”

Kekuatan kegelapan yang aku kerahkan menghantam punggungnya dan dengan segera membuat tubuhnya melayang jauh; kemana aku juga tak tau ...

Beberapa pendeta yang kelihatannya berilmu tinggi berusaha mengejarnya. Aku memusatkan seluruh kekuatanku dan berteriak. Gelombang kegelapan menyebar, memaksa mereka untuk menutupi kepala mereka sambil meringis kesakitan. “Kalau kau ingin menangkapnya, pilih hari lain,” Aku berkata, “Aku sudah membuat perjanjian dengannya hari ini dan bertekad untuk memegang kata-kataku. Aku harus menjamin keselamatannya untuk menjaga nama baikku.”

“Pelacur, hentikan bualanmu!”

Aku nyengir lebar memandang si pendeta tua. “Apakah aku membual atau tidak, mengapa kau tidak membuktikannya sendiri ?!”

Sikapku semakin membuat si tua bangka itu semakin marah sampai seolah-olah telinganya mengeluarkan asap, sambil menghunus pedangnya dia datang menerjang. Sementara, di kejauhan terdengar suara-suara panik: “Guru! Guru!” seorang murid Liubo berlari secepat angin.
“Yang Agung! Guur! Pagoda seribu-gembol ... Pagoda seribu-gembok sudah runtuh!”
Alisku naik sambil menonton wajah-wajah mereka dengan aneka ekspresi. Setelah cukup lama, mata-mata mereka yang mengandung kengerian memandangku.


Aku mengedipkan mata beberapa kali, mengangkat pundakku dan berkata, “Aku bersumpah aku tidak mengira kalau pagoda itu agak ringkih. Yang aku lakukan cuma memberikan sedikit colekan...” Tatapan mata mereka membuatku sedikit kurang nyaman hingga aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan tertawa canggung: “Haha, pagoda itu akhirnya jadi onggokan sampah dibawah danau, ahaha ...”

_______________________________________________________________________
Sharing mind ....
Beberapa hari ini cuaca luar biasa fanaaaass, hot ... hot ..... , dimana-mana nyari kipas angin, ac bagi yang mampu ^_^
Seharian pakai jilbab, kepala juga gatel, lepek, shampoo cepet abis karena keramas saban malem, hlaa belum kering udah ketiduran, pagi-pagi bangun masih lembab, ih tape dweeeeehhhh
Yah, disyukuri aja, karena cuaca panas jd rajin keramas, baik untuk hidup sehat. Yang penting hati tetep adem, terserah mau ngademinnya dengan cara apa juga yang penting masih di jalan yang benar ahaha ...
Quote of the day ‘The more you sweat in practice. The less you bleed in battle’ yang artinya jeng jeng jeng ..... latihan banyak-banyak biar penuh keringat juga (apalagi di cuaca panas begini ...lol...), kalau dah sering latihan ntar klo perang beneran udah jago, ga gampang kalah wkwkwkwk

____________________________________________________________________________









No comments:

Post a Comment

Death Exist Not at the River of Oblivion - Chapter 10

Chapter 10: Sulit sekali mencintaimu di kehidupan kali ini Aku tak melihat sosok Zhonghua lagi sejak hari itu. Kelihatannya dia benar-be...