Saturday, 22 July 2017

Chapter 1-- Tuan Muda -- PRODIGAL SON

Dear readers,

Terkadang cukup melelahkan membaca novel dengan banyak episode, bertanya-tanya  sepanjang waktu kiri-kira gimana soal ending-nya nanti, jadi sambil membaca sambil resah kan yah ^^’
Kalau sudah begini, aku biasanya mulai cari-cari bacaan pendek, penasarannya ga pake lama dan nerjemahinnya juga sebentar. Nah ini ada novel singkat yang bagus banget, udah baca berkali-kali kali tetap aja bikin mewek, tidak, tidak, jangan kuatir, ceritanya happy ending koq ^_^

Cerita ini bagus banget, termasuk dalam novel fav aku, tokoh-tokohnya real dan masuk akal, kisahnya menyentuh dan banyak memberikan inspirasi. Semoga pembaca juga suka dan thanks a lot sudah menyempatkan waktunya singgah disini, luf you all.

Kalau lihat terjemahan bahasa Inggrisnya di blog onesecondspring.blogspot.co.id punyanya Decembi , judulnya Our Second Master, kalau dalam bahasa Indonesia mah gampangnya Tuan Nomer dua, kalau novel aslinya Prodigal Son, yang artinya secara literal adalah anak laki-laki yang tidak berguna, atau bisa dibilang juga petualang, penganut prinsip hidup bebas gitulah. Nah, kalau judulnya dibahasa Indonesiakan rasanya koq canggung ya, mau pakai Prodigal Son hlaa ini kan terjemahan Indonesia, mau pakai Tuan Muda Kedua rasanya lucu banget jadi ambigu hihihihihihi

Setelah pikir-pikir, aku putuskan aja judulnya TUAN MUDA yah, gpplah ya kan, yang penting udah pada paham ya maksudnya aku, yang penting ceritanya tentang seorang putra kedua dari keluarga kaya, ceritanya memakai sudut pandang orang ketiga yaitu pelayannya.

Well, enough with the rambling hihihihihi... let’s start to read!

original author ; TWENTINE

Chapter 1 : Tuan Muda kami adalah sepasang celana dari sutra

Seluruh penduduk kota Hangzhou tau kalau Tuan Muda kami adalah sepasang celana sutra. * Keluarga Yang menjalankan bisnis sutra terbesar diseluruh negeri. Keluarga paling kaya diseluruh negeri dan memiliki dua putra. Tuan Muda pertama, Yang Yi Fang, ketika namanya disebut orang-orang akan mengacungkan jempolnya. Beliau adalah salah satu cendekia terbaik, sangat terpelajar dan salah satu kandidat sukses untuk lulus dari ujian kerajaan. Ditambah lagi, penampilan Yang Yi Fang yang sangat elegan dengan alis dan mata yang indah, oleh karenanya Tuan Besar Yang selalu suka membaza Yang Yi Fang bersamanya ketika mengadakan pertemuan bisnis. Dengan kuas dia menghasilkan lukisan, dengan kata-kata, dia membacakan puisi. Didunia yang penuh dengan orang-orang yang tidak berguna dan suka berpura-pura, kewibawaannya seperti batang pohon plum, putih seperti salju dimusim semi. Dan, Tuan Muda Kedua (note : kedepannya aku akan memakai kata Tuan muda sebagai kata pengganti Yang Yi Qi), Yang Yi Qi, baiklah, dia juga punya karakter – lagipula, tidak banyak orang yang bisa membuat kening mengernyit setelah mendengar nama seseorang disebut. Tuan Muda lebih muda setahun dari Tuan Muda pertama, namun kedewasaan emosional dan karakter mereka sangat berbeda sejauh bintang dan sisanya (aku nyerah deh nyari istilahnya, yang pasti maksudnya sangat-sangat bertolak belakang ^^)

Ada pepatah bilang bahwa karakter seseorang bisa dilihat saat usianya tiga tahun. Saat Tuan Muda masuk usia tiga tahun, Graha Yang mengadakan pesta besar yang acaranya sampai meluber keseluruh jalan. Mereka mengundang kelompok opera yang paling terkenal untuk meramaikan pesta. Ketika bintang utama sedang menyanyi dipentas, dia (perempuan) tiba-tiba berteriak kencang. Semua orang melihat dan menyadari bahwa ada seseorang berguling keluar dari balik rok penyanyi tersebut—ya benar, itu Tuan Muda kami. Mulai dari hari itu, hampir semua penduduk kota tau, putra kedua Graha Yang dari usianya masih tiga tahun sudah tau bagaimana caranya masuk ke balik rok si bintang dan menyentuh kakinya. Tuan besar Yang dan Nyonya Yang kehilangan muka dan hampir putus nafasnya. Setelah kejadian itu, Tuan Besar Yang mengundang lima guru, guru senior, guru junior, guru yang tegas, namun mereka semua tidak bisa mengontrol Tuan Muda. Tanpa mengeluarkan usaha, seperti meniup debu, Tuan Muda menusir mereka semua pergi.  

Syukurlah Tuan Muda pertama sangat hebat, perlahan Tuan besar Yang dan Nyonya Yang tidak ambil pusing dengan Tuan Muda. Setiap bulan, mereka akan memberinya uang dan membiarkannya melakukan apa saja yang dia suka. Mereka berdua mengerahkan semua usaha untuk mempersiapkan Tuan Muda pertama. Ah, aku belum bilang aku siapa. Karena aku menyebut Yang Yi Qi “Tuan Muda kami”, tentunya secara alami, aku juga bagian dari Graha Yang. Memang benar, aku pelayan Tuan Muda. Ketika usiaku delapan tahun, aku dijual ke Graha Yang. Pada awalnya, aku melakukan pekerjaan kasar di bagian dapur, dan kemudian aku dipindahkan ke pavilion Tuan Muda. Aku secara personal dipindahkan oleh Nyonya besar Yang – kalau kau pikir aku dipindahkan karena kecantikanku untuk menjadi selir-pelayan **, maka kau salah besar. Kenyataannya sangat berlawanan, aku dipindahkan karena aku jelek.

Sebenarnya secara pribadi aku tidak merasa aku ini jelek. Aku hanya sedikit pendek, wajahku agak sedikit bulat, mataku agak sedikit sipit, rahangku agak sedikit besar. Di samping semua itu, aku termasuk gadis yang cukup layak. Bagaimanapun, ketika pertama kali aku memasuki kediaman Tuan Muda, aku segera menyadari kesalahanku. Dengan wajahku, aku bahkan tidak bisa dianggap sebagai manusia disini, mungkin lebih cocok kalau dibilang seekor monyet – dan lebih tepatnya monyet liar di dalam hutan. Suatu hari – ada orang yang memberitahuku bahwa aku dipindahkan kesini karena Tuan Muda sudah tidur dengan seluruh pelayan disini. Semua pelayan saling menusuk dari belakang dan sibuk bersiasat sehingga tidak ada yang bisa menyelesaikan kewajiban mereka dengan benar. Hari pertama aku tiba, aku menghadap Tuan Muda untuk menyampaikan salam hormat. Tuan Muda sedang minum teh. Ekspresi ketika dia melihatku sungguh mengerikan dan sekasar yang kau bisa bayangkan. Dia mengibaskan tangannya untuk menyuruhku pergi dan melakukan tugasku.
Dalam hatiku, aku berkata, bisakah kau bersikap sedikit lebih baik? Akan tetapi, hari itu adalah hari pertama aku bertemu dengannya. Aku pikir aku tidak bisa menyalahkan semua pelayan yang melemparkan tubuh mereka kepadanya. Tuan Muda sangat tampan, aku sudah melihat Tuan Muda pertama sebelumnya, meskipun Tuan Muda pertama tidak jelek, namun bia dibandingkan dengan Tuan Muda, dia kekurangan satu hal. Meskipun Tuan Muda pertama membaca banyak buku dan sangat mudah disukai, namun dia memberikanku perasaan dingin. Tuan Muda sangat berbeda, diseluruh HangZhou, semua orang tau Tuan Muda tau bagaimana caranya bermain bagus. Sepasang mata yang selalu bersinar dari siang sampai malam hari, memakai jubah longgar, kapanpun jubahnya terbuka saat ia berjalan disepanjang Danau Barat sembari menggoyangkan kipasnya, seluruh perempuan muda akan memandang. Graha Yang sungguh besar, kediaman Tuan Muda dan Tuan Muda pertama letaknya berjauhan, namun semua orang di Graha tau bahwa orang orang dari kedua pavilion tidak melihat dari mata ke mata.

Pelayan dari pavilion Tuan Muda mencemooh penampilan pelayan dari pavilion Tuan Muda pertama, sementara pelayan pavilion Tuan Muda pertama tidak menyukai cara hidup pelayan pavilion Tuan Muda. (Note : mungkin tepatnya bahwa pelayan dari pavilion Tuan muda pertama wajahnya kurang menarik, sementara pelayan dari pavilion Tuan muda kehidupannya tidak pantas, mungkin karena sibuk memperebutkan perhatian Tuan muda-nya ^^) Dan, sebagai orang yang sudah menurunkan standar pavilion Tuan muda 9Karena tidak cantik), hidupku tidak nyaman disana. Semua pekerjaan kotor dan melelahkan menjadi tugasku. Sebenarnya tak masalah buatku. Yang menjadi masalah adalah semua kesalahan kesalahan konyol juga ditimpakan kepadaku. Sebagai contoh, pelayan terbaru Tuan Muda Chun Xue, ketika dia sedang menikmati pemandangan bunga-bunga mekar ditaman, dia secara tak sengaja menginjak kaki pelayan selir ** favorit sebelumnya, Lu Liu. Karena hal ini, kedua gadis mulai bertengkar ditaman. Aku sedang berdiri disatu sisi sedang menyapu lantai. Karena aku sedang bosan, aku menonton mereka berkelahi. Tak lama kemudian, Tuan Muda kedua dan dua singa garang yang tadinya sedang bergumul ganas berubah menjadi domba yang lemah lembut, bergelayut disebelah kanan dan kirinya, saling menangis dan menyalahkan.

Tuan Muda memeluk mereka berdua, membujuk sana dan membujuk sini. Namun karena kedua perempuan sama-sama mau menang, mereka sama sama mengatakan diri siapa yang paling menderita dan memaksa Tuan Muda untuk mengambil keputusan. Tuan Muda tidak sampai hatinya memukul salah satu dari mereka, menoleh ke kanan dan ke kiri, dan tak sengaja melihatku. Ketika matanya yang berbinar melihatku, hatiku seketika melonjak dan hatiku jadi tidak enak. Ternyata perasaanku benar, dengan langkah cepat, Tuan Muda berjalan ke arahku dan menamparku. Tamparannya tidak ringan, namun juga tidak kuat, kalau bisa dibilang, energi yang mau dikeluarkan oleh Tuan Muda untuk pelayan monyetnya cuma segitu. Aku monyet yang bijaksana, setelah menerima tamparan, aku dengan segera berlutut dan mengakui kesalahanku. Setelah itu, Tuan Muda dengan suaranya yang membujuk mengatakan kepada kedua perempuan itu, “Ini tentunya sudah cukup.” Dan semuanya selesai.

Sampai hari ini, aku masih tidak mengerti mengapa Tuan Muda menamparku. Mungkin itu dia lakukan untuk menunjukkan kemampuannya, atau untuk menyenangkan hati perempuannya. Atau mungkin dia merasa aku merusak pemandangan. Namun, itu kali pertama Tuan Muda menyentuhku. Aku sering mendengar para selir bergosip tentang bagaimana kuatnya Tuan Muda, dan bagaimana ketika aku merasakan kekuatannya, semuanya sangat keren sampai sampai rasanya seperti pergi ke surga. Malam setelah aku ditampar, dengan perasaan sadar, aku memang merasa terbang ke surga.
Beberapa waktu kemudian, suatu hari Nyonya besar berkunjung ke pavilion dan bicara dengan Tuan Muda sampai malam. Semua pelayan berkumpul dalam rasa takut dan cemas. Aku penasaran dan menanyakan tentang apa yang terjadi. Biasanya, mereka tak banyak bicara denganku, namun mereka sangat kesal kali ini dan tidak punya energi untuk membenciku, jadi mereka memberitahuku apa yang terjadi.

Aku segera paham. Ternyata Nyonya besar ingin mencarikan Tuan Muda istri. Tuan Muda pertama sudah menikah selama tiga tahun dan sudah punya seorang putra. Tuan Muda adalah laki-laki yang suka bermain dan tak peduli urusannya sendiri. Tuan Besar sudah pelan-pelan mewariskan usahanya ke Tuan Muda pertama, dan teringat tentang pernikahan Tuan Muda. Tuan Muda adalah anak celana sutra yang manja, suka kesana-kemari bermain-main, playboy, reputasinya sungguh amat buruk. Namun, Graha Yang punya kekuatan yang besar dan uang yang banyak yang tak ada habisnya, jadi orang yang datang untuk menawarkan pernikahan sangat banyak. Nyonya besar menanyakan pendapat Tuan Muda dan dia tidak mengatakan banyak, hanya bilang agar dicarikan perempuan yang cantik. Nyonya muda bernafas lega dan pergi. Tak lama kemudian, Tuan besar dan Nyonya besar menemukan seorang gadis putri seorang pebisnis daun teh.

Pebisnis daun teh ini bukan pebisnis biasa, salah satu pebisnis papan atas di HangZhou. Putri bungsu mereka baru saja berulang tahun ke enam belas dan sedang dalam usia mekar. Dua keluarga mengatur pertemuan. Hari itu, Tuan Muda bangun telat dan tidak benar-benar merapikan dirinya – dengan kondisi berantakan dia pergi ke tempat pertemuan. Akan tetapi, kebalikan dari yang diharapkan si gadis muda justru tertarik gaya tak biasa dan kebebasan Tuan Muda. Meskipun kedua orangtuanya masih tidak yakin, namun membayangkan tentang betapa besarnya bisnis keluarga Yang, mereka tidak akan khawatir tentang bagaimana Graha Yang akan menangani Tuan Muda, dan dengan demikian mereka sepakat. Oleh karena itu, Nyonya Yang mulai membersihkan pelayan dari pavilion Tuan Muda. Dalam setengah bulan, terdengar tangisan dan lolongan dari semua penjuru pavilion siang dan malam. Aku tidak bisa tidur nyenyak dalam beberapa hari. Wajahku jadi semakin tirus dan semakin mirip dengan monyet. Namun, terimakasih kepada wajah monyetku, Nyonya besar tidak mengusirku dari pavilion, dia bahkan tidak melirik ke arahku dua kali. Aku dengan aman dan nyaman tetap tinggal di pavilion Tuan Muda.

Selain aku, ada juga seorang pelayan tua berusia lima-puluhan. Namun selain kami berdua, pavilion bahkan tidak punya tikus perempuan. Tukang suruh, penjaga, dan pembantu, semuanya laki-laki. Tuan Muda sangat kesal dengan keadaan ini. Kau harus tau kalau temperamen Tuan Muda kami sangat buruk, ketika ada perempuan untuk membujuknya, masih aman, namun ketika tidak ada perempuan dia akan berubah menjadi anjing liar yang baru dilepas—bukan, kuda liar. Pelayan tua yang dipanggil nenek Feng tuli, jadi cuma aku yang tersisa untuk disiksa oleh Tuan muda. Dalam dua tahun aku bekerja di pavilion Tuan Muda aku tidak banyak berinteraksi dengannya sebanyak aku berinteraksi dengannya dua bulan belakangan ini. Meskipun saat ia sedang bermain dengan burung-burung peliharaannya di halaman, ketika dia sedang bosan, dia akan datang mencariku dan menendangku. Apakah aku berani melawan? Tentu, aku tidak berani.

Jadi, aku terbiasa menjadi tempat ia melampiaskan marahnya. Dalam hatiku, aku berharap agar tahun segera berganti. Kenapa? Pernikahan Tuan Muda diadakan setelah tahun baru. Setelah tahun baru, akan ada nyonya muda di pavilion dan Tuan Muda tidak akan punya waktu untuk menendangku. Selagi aku menghitung hari berlalu, sesuatu terjadi kepada Tuan Muda.

Singkat cerita, sesuatu itu bukan terjadi atas Tuan Muda, namun tepatnya sesuatu menimpa Graha Yang. Tuan Besar Yang berangkat ke Jiang Su dalam urusan bisnis dan secara tak sengaja diwaktu yang sama Tuan Muda sedang kabur dari rumah karena bosan. Dia tertangkap oleh Tuan besar Yang dan menyeretnyad dengan marah. Dan dijalan pulang, sesuatu menimpa mereka. Detail penting tentang apa yang terjadi, pelayan tidak penting seperti aku tak akan pernah tau. Aku sedang mencuci pakaian ketika mendengar teriakan dari luar pavilion.

Aku merasa aneh ketika sekelompok prajurit masuk ke dalam dan membongkar seisi rumah. Kelakuan mereka sangat kasar dan mereka menghancurkan semua barang Tuan Muda. Malam itu, setelah prajurit pergi, aku mendengar semua anggota keluarga perempuan Graha Yang berkumpul dan menangis.  Tangisan mereka sangat memilukan – terdengar sepanjang malam. Aku tidak tau apa yang terjadi, namun sejak hari itu aku tau bahwa Graha Yang sudah runtuh. Rumah besar disegel dan kami semua pindah ke rumah kecil diluar kota. Nyonya besar mengumpulkan semua pelayan, memberikan mereka sedikit uang dan meminta kami untuk pergi. Itu kali pertama aku melihat Nyonya besar memakai pakaian masyarakat jelata yang usang sama seperti kami. Namun Nyonya besar tetaplah Nyonya dari keluarga Yang, apapun yang dia pakai dia tetap terlihat cantik.

Setelah menerima uang, aku hanya menanyakan satu hal – “Nyonya besar, Tuan Muda kami?”
Nyonya besar Yang mendengarku dan kedua bola matanya menjadi merah, dia menutupi mulutnya dan menangis.

*sebutan bagi anak orang kaya namun biasanya berkonotasi negatif.

**pelayan namun dalam keseharian diperlakukan seperti selir

No comments:

Post a Comment

Death Exist Not at the River of Oblivion - Chapter 10

Chapter 10: Sulit sekali mencintaimu di kehidupan kali ini Aku tak melihat sosok Zhonghua lagi sejak hari itu. Kelihatannya dia benar-be...