Monday, 31 July 2017

Lost You Forever - Chapter 2 - Tong hua (Indonesian bahasa)

Chapter 2
Masa depan yang tak diketahui

Kota Qing Shui tidak besar namun kota ini termasuk kota yang unik didataran liar. Dari utara ke selatan berbatasan dengan pegunungan yang luas, terlihat alami. Setelah kerajaan Sheng Nong dihancurkan, Jenderal besar Sheng Nong, Gong Gong menolak untuk menyerah. Dia menguasai 100.000 prajurit yang berlokasi di sebelah Timur kota Qing Shui dan dari sana dia terus memerangi Kaisar Kuning (Yellow Emperor).

Kalau wilayah Timur dikuasai oleh jendral Gong Gong, maka sebelah Barat kota Qing Shui terdapat kerajaan Xuan Yuan dan disebelah Selatan berbatasan dengan kerajaan Gao Xing. Kota Qing Shui tidak berada dalam wilayah kekuasaan Kaisar besar (Grand Emperor) dari Gao Xing maupun dalam kekuasaan Kaisar Kuning dari Xuan Yuan. Bertahap kota Qing Shui berubah menjadi wilayah tempat bersatunya tiga pengaruh namun tak satu pun kekuatan dari tiga wilayah itu mendominasi.
(Ke depannya aku akan tetap memakai sebutan sesuai dari terjemahan Ingrisnya aja ya, Grand Emperor dan Yellow Emperor)

Di kota Qing Shui, tidak ada kekuasaan kekaisaran, tidak ada keluarga berpengaruh, tidak ada yang kaya tidak ada yang miskin, dan yang jelas tidak ada batasan antara kaum dewa dan iblis.
Bila seseorang mempunyai kemampuan, tak peduli dia dewa atau iblis, sebelumnya apakah dia pejabat atau bandit, maka orang itu bisa tinggal dan tak seorang pun yang perduli tentang masa lalunya. Bertahap berbagai kalangan orang berkumpul di Qing Shui.

Berkaitan dengan terjadinya perang selama beberapa ratus tahun belakangan, darah, mayat, dan kelahiran menghasilkan banyak tukang besi dan tabib. Seni membuat senjata dan pengobatan di kota Qing shui menjadi cukup terkenal.

Bila adaahli senjata dan tabib, maka orang orang akan datang untuk membeli senjata dan juga mencari bantuan kesehatan. Ketika ada para pria, maka akan lahir tempat pelacuran. Ketika ada kaum wanita, maka akan ada tukang jahit. Dan bila ada pria dan wanita, maka selanjutnya adalah restauran dan kedai teh ...

Tak pasti apakah ayam atau telur yang ada lebih dulu, akan tetapi kota Qing Shui penuh sesak penduduk dan tidak tampak seperti kota yang berada di garis depan pertempuran.

Klinik Hui Chun terletak disebuah lokasi diujung Barat kota. Dikarenakan kompetisi yang sengit dan pada dasarnya memang cukup sulit menjalankan bisnis klinik kesehatan, Ma Zi dan Chuan Zi menceritakan kepada Shi Qi bahwa dulunya ada orang orang yang datang dan mencoba menutup klinik Hui Chun. Namun Lao Mu bekas prajurit Xuan Yuan, meskipun cuma dewa dari status rendah dia masih memiliki kekuatan spiritual yang cukup memadai dan bisa melawan beberapa orang. Keahlian pengobatan Xiao Liu hanya rata rata jadi klinik lainnya tidak ambil pusing. Sehingga bisnis Hui Chun bisa dibilang lumayan, cukup untuk memberi mereka berlima  pakaian dan makanan.

Dua tahun telah berlalu, meski Shi Qi masih terlihat kurus dan lemah, namun tenaganya lebih kuat dari yang mereka bayangkan. Mengangkat ember air, memotong kayu, merebus obat, menggiling tanaman herba, dia bisa melakukan semuanya. Dan daya ingatnya sangat bagus.


Ma Zi dan Chuan Zi sudah mengikuti Xiao Liu selama lebih dari sepuluh tahun dan masih saja tidak bisa mengingat nama beberapa tanaman. Shi Qi berbeda, jenis herba apapun asalkan dia mendengar sekali dari Xiao Liu maka ia akan mengingatnya.

Secara bertahap Xiao Liu mulai membawa Shi Qi kemana pun, dia kuat, punya ingatan yang bagus, sangat patuh, melakukan segala yang diperintahkan, Shi Qi jelas orang yang tepat untuk diminta melakukan hal hal buruk seperti pembunuhan dan kekerasan.

Suatu malam selepas makan malam, mereka berlima duduk bersama. Atas desakan Ma Zi dan Chuan Zi, Xiao Liu menghitung semua uang yang mereka punya dan mengeluh "Lebih banyak pria dibandingkan wanita dikota ini. Untuk mengajak tidur seorang perempuan dalam waktu yang singkat sama artinya menghabiskan uang di tempat pelacuran. Akan tetapi menikahi seorang perempuan untuk bisa diajak tidur setiap malam akan lebih sulit. Dalam jangka pendek, tidur dengan pelacur memang cukup bagus. Tapi untuk jangka panjang, menikahi seorang perempuan agar bisa diajak tidur setiap malam adalah jawaban yang paling masuk akal."

Ma Zi dan Chuan Zi memandang Xiao Liu dengan tampang terpelongo. Wajah Lao Mu berkerut seperti bunga chrysanthemum sementara Shi Qi menundukkan wajahnya namun ujung bibirnya tertarik ke atas. Xiao liu bertanya kepada mereka (Ma Zi dan Chuan Zi) "Apakah kalian ingin mengajak tidur perempuan sebentar saja atau menunda sementara sampai beberapa tahun lagi hingga uang kalian cukup untuk bisa tidur dengan mereka setiap malam?"

Ma Zi dengan tegas menyahut " Abang Liu, menikahi seorang istri bukan hanya untuk bisa di ajak tidur setiap malam."

"Kau menghabiskan banyak uang untuk menikahi seorang perempuan dan kau tidak ingin tidur dengannya?" sahut Xiao Liu yang ingin sekali rasanya membalikkan meja.

"Tentu saja tidak, maksudku dia tidak HANYA untuk diajak tidur. Tapi juga untuk diajak makan bersama, diajak bicara, juga saling menemani satu sama lain."

Xiao Liu mendengus "Aku makan dan bicara denganmu dan menemanimu. Kalau begitu mengapa kau masih inginkan seorang istri?"

"Karena istriku bisa kuajak tidur sedangkan kau tidak."

"Kalau begitu benar kau ingin menikah dan punya istri hanya untuk tidur dengannya."

Ma Zi duduk dengan resah "Baiklah, sebut saja menikah untuk bisa diajak tidur." Dia menarik tangan Chuan Zi "Jangan dengar kata kata Abang Liu, bersabarlah dan menabung. Istri istri kita lebih baik daripada pelacur. Istri kita bukan hanya untuk diajak tidur." Lao Mu tertawa dan membelai Ma Zi "Jangan khawatir, Abang liu dan aku akan membantu kalian mengumpulkan cukup uang."
Ma Zi dan Chuan Zi pergi tidur dan Shi Qi juga diminta masuk kekamarnya.

Lao Mu berkata kepada Xiao Liu "Chuan Zi bisa menunggu namun pernikahan Ma Zi tidak bisa ditunda lebih lama lagi. Ma Zi menyukai anak perempuan Gao kalau kita tidak bisa segera melamar maka calon pengantin Ma Zi akan diambil orang. Aku berencana untuk masuk ke pegunungan untuk mencari bahan obat-obatan yang lebih bagus, dan bila beruntung bisa menemukan tanaman gaib ....

Xiao Liu berkata "Pegunungan adalah wilayah kekuasaan prajurit bertahan Sheng Nong. Kau bekas prajurit Xuan Yuan, pergi kesana sama saja cari mati. Lagipula kau tidak mengenali tanaman tanaman itu. Aku saja yang pergi."

Lao Mu menjawab "Prajurit Gong gong terkenal adil dan punya prinsip, mereka tidak akan melukai orang yang tidak berdosa bahkan manusia biasa tidak takut bertemu dengan prajurit prajurit Sheng Nong. Akan tetapi letnan besar Xiang Liu terkenal sangat sulit. Rumor mengatakan bahwa ia adalah iblis berkepala - sembilan. Ia punya sembilan nyawa dan nama aliasnya adalah si sembilan nyawa. Dia sangat licik dan sadis.

Xiao Liu tertawa "Aku bukannya pergi untuk beradu kepintaran, aku pergi untuk mencari tanaman gaib. Dia mungkin licik namun dia tetap harus mematuhi peraturan. Lagipula aku tak akan pernah bertemu seseorang sehebat dan seperkasa Jenderal Xiang Liu."

Lao Mu juga berpikir demikian. Dia sudah berperang dalam berbagai perterpuran, lupakan si Sembilan nyawa Xiang Liu, dia bahkan tidak pernah berhadapan dengan prajurit yang pangkatnya diatas dia sekalipun.

Lao Mu merasa yakin namun mengingatkan Xiao Liu untuk tetap waspada dan tidak pergi ke tempat yang tidak perlu dan bila tidak ada tanaman gaib maka segera kembali dan mereka akan memikirkan cara lain.


Xiao liu khawatir Ma Zi dan Chuan Zi akan menghalanginya pergi sehingga Xiao Liu berencana berangkat sebelum matahari terbit. Menyenandungkan lagu dengan suara pelan sambil mengunyah ceker ayam, Xiao Liu berjalan namun kemudian dia merasa ada yang janggal. Dia membalikkan badan dan melihat Shi Qi ada dibelakangnya. Xiao liu mengibaskan tangannya "Mengapa kau mengikuti aku? Aku hendak pergi ke gunung untuk mencari tanaman obat. Kau pergilah pulang."


Xiao liu terus berjalan namun Shi Qi tetap mengikuti. Xiao lou berkacak pinggang dan meninggikan suaranya " Hey! Aku bilang pergi pulang. Apa tidak dengar?"

Shi Qi tetap diam dan berdiri, pandangan menatap kebawah dan dalam diamnya tetap keukeuh pada pendiriannya. Mungkin dikarenakan takdir mereka yang diawali dengan rasa iba sehingga Xiao Liu cepat melembut. Dia bertanya "apakah kau bekas prajurit Sheng Nong?" Shi Qi menggelengkan kepalanya. "Apakah kau bekas prajurit Xuan Yuan?" Shi Qi menggelengkan kepalanya. "Apakah kau mata-mata Gao Xing?" Shi Qi mengelengkan kepalanya. Xiao Liu tersenyum "Kalau begitu kau boleh ikut. Ikuti aku."

Shi Qi mengambil alih keranjang dan tas berisi makanan ringan dari punggung Xiao Liu. Xiao liu selesai mengunyah ceker ayamnya dan Shi Qi mendekatkan tas berisi makanan ringan kepadanya dan Xiao Liu mengambil leher bebek. Xiao liu memakan leher bebek dan kelihatannya akan sekali lagi hendak mengusap tangannya yang kotor ke jubahnya ketika sepotong serbet bersih disodorkan kepadanya. Xiao Liu tergelak dan membersihkan tangannya. Shi Qi memberikan botol minum dan Xiao Liu menyesap anggur buah plum dan bersendawa. Xiao Liu merasa hari-hari belakangan ini sungguh sangat manis! Mereka berdua berjalan sepanjang hari dan sudah petang ketika mereka memasuki pegunungan.

Xiao Liu menemukan tempat didekat sumber air dan menaburkan bubuk herba disekeliling mereka. "Ada banyak hewan buas di gunung. Jangan melangkah keluar lingkaran pada malam hari. Aku akan pergi mengambil air dan kau pergilah mencari kayu bakar. Segera kembali sebelum gelap."
Xiao Liu kembali dengan membawa air dan sedikit sayuran liar. Shi Qi belum kembali dan sesaat sebelum Xiao Liu memutuskan untuk mencarinya tampak Shi Qi kembali dengan kayu bakar dipunggungnya dan seekor ayam liar ditangannya. Xiao Liu senang sekali "Kau nyalakan api, aku akan masak sesuatu yang lezat untukmu."

Xiao Liu membersihkan ayam dan memasukkan sedikit jamur kedalam perutnya, menggarami bagian luar, membasahinya dengan anggur plum, membungkusnya dengan daun yang lebar, dan menimbunnya didalam tanah liat berwarna kuning tepat disebelah api unggun. Kemudian dia membuat wajan sederhana diatas api dan merebus sayuran dengan tulang ayam.
Shi Qi dalam diam memerhatikan Xiao Liu bekerja. Xiao Liu mengaduk rebusan dan sambil tertawa dia berkata "Aku tinggal digunung bertahun tahun. Apa yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan, aku sudah makan semuanya. Bersamaku, kau pasti bisa makan enak."

Ketika semuanya sudah siap, Xiao Liu menggali ayam dalam tanah liat dan memecahkannya. Aroma sedap menguar di udara. Xiao Liu membagi ayam dalam tiga bagian, satu bagian masuk ke dalam ransel makanan, dia memberikan Shi Qi bagian yanh paling besar "Habiskan, kau terlalu kurus." Xiao Liu makan bagiannya sambil memerhatikan Shi Qi. Pria itu masih sama, setiap gerakannya elegan dan berwibawa, seolah olah sedang duduk makan diperjamuan mewah dan makan makanan yang luar biasa lezat. Xiao Liu mendesah "Shi Qi, kau akan pergi cepat atau lambat."
Sho Qi melirik padanya " Aku. Tidak. Akan."

Xiao Liu tersenyum, menghabiskan jamur dan pergi ke sumber mata air untuk bebersih.
Xiao Liu bangun dipagi hari dan melihat Shi Qi sudah menyalakan api serta merebus air panas. Xiao Liu mengeluarkan sisa ayam kemarin malam, memotongnya dalam bentuk dadu lalu memasukkannya kedalam air panas untuk membuat sup. Setelah mereka selesai makan dan memadamkan api, mereka melanjutkan perjalanan naik ke gunung.


Xiao Liu membawa Shi Qi dan hanya mengambil tanaman herba yang paling berharga disepanjang jalan. Setelah tiga hari berjalan, mereka memasuki bagian paling dalam pegunungan. Xiao Liu berjongkok dan memandang ke arah sekelompok binatang. Alisnya bertaut seperti sedang memikirkan sesuatu. Shi Qi dengan semua barang bawaan mereka dalam diam memerhatikan.


Xiao Liu berdiri dan berkata "Kau tunggu disini saja, aku mau pergi untuk mencari sesuatu, sendirian." Shi Qi tak mengangguk, dia mengikuti kemanapun Xiao Liu pergi. Xiao Liu membelalakkan matanya "Kau bilang kau akan mendengarkanku. Kalau kau tidak mendengarkan maka aku tidak menginginkanmu lagi." Shi Qi dalam diam memandang Xiao Liu, semburat cahaya matahari yang menembus melalui celah celah pohon menyinari bekas luka sepanjang garis rambut dan membuat kepedihan dimatanya terlihat.
Hati Xiao Liu segera lunak dan bergerak mendekati Shi Qi dan seakan hendak memegang tangannya namun segera ingat bahwa Shi Qi tidak suka disentuh jadi ia memutuskan hanya memegang ujung jubahnya "Shi Qi yang terbaik dan paling patuh juga yang paling bisa diandalkan, aku tak akan meninggalkanmu. Aku tidak membawamu karena ini akan berbahaya. Hewan yang mau aku tangkap ini sangat pintar dan jika mereka mencium aroma yang tidak biasa mereka akan segera kabur ribuan mil dari sini dalam sekejap mata. Satu satunya cara agar bisa mendekatinya adalah dengan mengoleskan kotorannya ke tubuh kita namun tidak ada cukup kotoran disini jadi cuma aku yang bisa pergi. Kalau aku tidak bisa menangkapnya maka aku akan segera kembali, jadi tunggulah disini."
Xiao Liu menelengkan kepalanya sambil tersenyum dan akhirnya Shi Qi mengangguk.
Xiao Liu mengambil kotoran dan mengoleskannya dilengannya "Tidakkah ini menjijikkan? Kau mungkin belum pernah melihatnya. Sebenarnya tak seburuk yang kau lihat. Banyak obat dibuat dari kotoran binatang kalau kau tau. " Xiao Liu berbalik dan menatap Shi Qi yang selalu ada dibelakangnya. Shi Qi memperbaiki lengan baju Xiao Liu dan berkata "Berhati hatilah."
Xiao Liu tertawa "Aku pernah hidup sendirian digunung selama bertahun tahun. Saat lapar, aku bahkan pernah mencuri telur dari Iblis ular berusia ribuan tahun. Bahkan mahkluk yang paling buas tidak kuanggap berbahaya. Sejujurnya, tidak ada mahkluk buas atau binatang yang lebih menakutkan daripada manusia ..." Xiao Liu merapikan sabuknya dan melambai "Aku jalan."
"Aku. Akan menunggumu." Shi Qi berdiri dibawah pohon.

Xiao Liu termenung, baginya tidak mungkin ada seseorang yang mau menunggu sepanjang hidupnya. Xiao Liu tersenyum dan dengan sebuah lompatan dia menghilang dibalik pepohonan.
Xiao Liu ingin menangkap seekor Jiu Jiu, binatang kecil mirip kucing. Binatang ini memiliki ekor putih yang panjang dan berkhasiat untuk mengusir penderitaan. Sangat populer dikalangan kaum bangsawan dan bisa dijual mahal. Binatang ini tidak punya kekuatan melawan namun sangat pintar dan sangat mudah takut sehingga mudah sekali kabur. Sangat sulit menangkapnya. Namun Xiao Liu punya cara. Jiu Jiu suka mendengar nyanyian perempuan muda (haaaaaaa .... kalau kalian penasaran sama pemeran utama cerita ini maka terjawab sudah, yap!!! Xiao Liu ini pemeran wanita utama kita, jadi ceritanya dijaman ini orang orang tertentu bisa berubah wujud, disini Xiao Liu merubah wujudnya jadi pria, alasannya apa nanti disepanjang cerita akan terungkap, sabar yaaaa, tapi dijamin sepadan koq ^^). Jiu Jiu akan terpesona dengan senandung sedih yang dinyanyikan dan perlahan akan mendekat ke perempuan muda untuk membantu si gadis melupakan penderitaannya. Xiao Liu menemukan tempat yang tepat untuk menjalankan perangkap.
Pertama-tama ia melompat ke dalam sungai untuk membersihkan dirinya dari kotoran dan merangkak keatas sebuah batu dan duduk. Batunya hangat karena terkena sinar matahari dan Xiao Liu duduk diatasnya, merapikan rambutnya dan bernyanyi. Senandungnya terbawa angin. Xiao Liu menyanyikan lagu tentang seseorang yang sedang merindukan kekasihnya dan tidak pernah bisa melupakannya.

Note:
(Well, ternyata alasan Xiao Liu bilang soal kotoran ke Shi Qi hanya agar Shi Qi tidak ikut, karena kalau Shi Qi ikut maka akan ketauan deh kalau Xiao Liu itu ternyata perempuan ^^).

Suaranya merdu dan lagunya penuh kesedihan sehingga Jiu Jiu tertarik. Awalnya binatang itu takut dan bersembunyi dalam kegelapan. Ketika merasakan tidak ada bahaya, binatang ini tidak mampu mengatasi insting alaminya untuk membantu menghilangkan penderitaan seseorang sehingga binatang ini keluar dan mulai bersuara.

Xiao Liu membetulkan rambutnya dan melihatnya. Binatang ini punya mata yang besar dan sangat imut. Binatang ini mencicit dan akan menggoyangkan ekornya yang panjang, melompat rendah atau menendangkan kakinya atau menepuk dadanya. Binatang ini melakukan semua gerakan lucu bertujuan untuk membuat Xiao Liu tertawa.

Xiao Liu mendesah kuat dan menyelesaikan nyanyiannya. "Kau binatang yang konyol, pergilah, aku tak akan menangkapmu untuk mendapatkan uang." (Oooooooww Xiao Liu, ternyata hatimu selembut tahu )

Jiu jiu memandang Xiao Liu dengan keheranan ketika tiba tiba suara keras menderu datang dari atas kepalanya dan seekor elang berwarna putih keemasan mencoba mencengkeram Jiu Jiu itu. Jiu jiu itu tidak bisa lari kemana mana, melihat tidak ada pilihan lain lagi maka hewan itu melompat kedalam dekapan Xiao Liu.

Si elang putih berbulu keemasan bertengger, matanya menatap Xiao Liu, seolah berkata "Aku mau makan 'benda' itu! Kalau kau tidak ingin mati maka pergilah!" Dalam hati Xiao Liu berpikir bahwa elang ini belum cukup sakti untuk merubah wujud menjadi manusia, namun elang ini pasti bisa memahami perkataan manusia.

Xiao Liu mendesah dan membungkukkan tubuhnya penuh hormat "Tuan elang, aku tidak bermaksud tak sopan, kau pasti tau sangat sulit untuk menangkap Jiu Jiu dan bila aku tak berhasil memancingnya keluar tadi, kau juga tidak akan bisa menangkap dan memakannya."

Elang itu mengepakkan sayapnya yang lebar dan bersamaan dengan gerakannya sebuah batu besar pecah berkeping keping. Amarahnya sangat menyeramkan. Xiao Liu berpikir lebih baik untuk tidak bertindak mundur sebab dengan begitu malah akan membangkitkan insting alami binatang untuk menyerang. Walaupun elang ini bisa berpikir namun insting alaminya pasti masih ada.

Cakar Jiu Jiu dalam dekapannya mencengkeram Xiao Liu dan binatang ini berusaha sebisa mungkin menggelung tubuhnya sekecil-kecilnya. Xiao Liu mendekapnya dengan sebelah tangan dan dengan tangan satunya menaburkan sejumput bubuk. Matanya menatap mata elang dan berkata setulus mungkin dan dengan gerakan yang hati-hati berkata "Tuan elang sangat gagah dan kuat. Kekuatan sayapmu sungguh mengesankan. Satu kali lihat saja sudah tau bahwa engkau adalah raja diantara para elang, penguasa angkasa. Aku sangat terkesan ..... tapi aku minta maaf karena engkau tidak bisa makan (Jiu Jiu) hari ini."

Dalam pikirannya mungkin si elang ingin sekali menghajar bajingan didepannya ini namun tiba tiba dia merasa pusing, sama rasanya seperti mencuri anggur namun akhirnya tidak mencuri ... Setelah bergoyang kekanan dan ke kiri elang itu pingsan.

Xiao Liu baru saja mau kabur ketika sebuah suara datang dari atas "Furball, aku sudah bilang berkali kali, manusia adalah mahkluk yang paling jahat. Kali ini kau sudah paham kan?"

Seorang pria berambut putih dan berjubah putih dengan elegannya duduk di cabang sebuah pohon dan tersenyum senang memandang ke arah si elang yang tak sadarkan diri. Xiao Liu mendesah lemah, bahaya yang sebenarnya telah tiba pikirnya. Dia melemparkan Jiu Jiu ke arah pepohonan dan berharap dengan kesigapannya mahkluk itu bisa menyelamatkan diri. Siapa yang tahu Jiu Jiu itu tiba tiba tersungkur dan berdiri diam membeku dihadapan pria itu. Binatang itu bahkan tidak punya keberanian untuk kabur! Kalau binatang itu tak mau kabur, maka Xiao Liu yang kabur!

Xiao Liu menebarkan bubuk ke arah pria itu dan mencoba kabur ketika pria itu menghadang jalannya.

Xiao Liu menebarkan lebih banyak bubuk namun pria itu hanya mengerutkan alisnya dan berkata "Kalau kau terus saja menebarkan bubuk tak berguna itu dan mengotori pakaianku, aku akan memotong tanganmu."

Xiao Liu segera berhenti, lawannya sungguh perkasa, racun dan bubuk tidur tak mempan baginya. Dia juga tak bisa melawan, cara yang tersisa cuma satu - berlutut dan memohon.

Xiao Liu pasrah berlutut dan dengan air mata palsu bercucuran dan hidung basah dia memohon "Tuanku, aku cuma tabib kecil dari kota Qing Shui datang ke hutan hanya ingin mencari tumbuhan herba untuk mengumpulkan sedikit uang. Dua saudaraku membutuh uang untuk mencari istri ..." Pria itu menyentuh elangnya dan berkata "Penawar."

Xiao Liu merangkak mendekat dan memberikan penawar kepadanya. Pria itu memberikannya kepada si elang dan akhirnya ia memandang Xiao Liu. "Elang tungganganku telah memakan ribuan ular beracun, bahkan racun yang dibuat oleh dokter di kerajaan Xuan Yuan tidak efektif meracuninya. Sungguh menarik mengetahui seorang tabib kecil dari Qing shui begini berbakat."

Xiao Liu merasakan hawa dingin merambat ditengkuknya dan menyumpah dalam hati "Hal itu cuma keberuntungan semata. Aku tidak berbohong, aku tabib rendahan yang mengobati masalah kesuburan. Dari klinik Hui Chun di kota Qing Shui. Jika tuanku punya istri yang tidak bisa hamil ... "
Seorang prajurit bertubuh kecil datang berlari dan memberi hormat "Tuanku." Pria itu menendang Xiao Liu dan memerintahkan "Ikat dia!" "Ya tuan!" Xiao Liu diikat dan dia menarik nafas lega. Ini area kekuasaan pasukan Sheng Nong. Meskipun kaisar kuning menyebut mereka sekelompok pecundang pengkhianat, dalam beberapa ratus tahun belakangan mereka tidak pernah mengganggu orang dan selalu menjaga kekuatannya.

Xiao Liu mengatakan yang sebenarnya jadi bila mereka menemukan kebenarannya maka ia akan dilepaskan. Akan tetapi dia tau pria ini sangat berbahaya .... dia mengintip pria berpakaian putih itu yang sedang serius memeriksa elangnya.

Obat penawarnya bekerja dan si elang akan segera sadar. Akan tetapi Jiu Jiu konyol itu masih membeku diatas tanah. Xiao Liu tertawa dan berkata "Tuanku, tolong biarkanlah Jiu Jiu itu pergi." Pria itu bersikap seolah tak mendengar apa-apa dan terus membelai punggung elangnya. Elang itu bangkit dan mengibaskan bulunya sebelum terbang dan mencabik Jiu Jiu tersebut.

Jeritannya hilang bahkan sebelum mendarat. Xiao Liu menunduk dan melihat jejak darah pada sejumput bulu berwarna putih yang mendarat dikakinya. Pria itu menunggu sampai si elang selesai makan sebelum semuanya kembali ke kamp.

Xiao Liu menjaga matanya tetap tertutup menolak untuk tahu rute yang mereka ambil. Berdasarkan suara suara disekitar, tempat ini bukanlah kamp yang besar dan nampaknya cuma digunakan sementara saja. Xiao Liu dihempaskan ke atas tanah dan suara dingin pria itu masuk ke telinganya "Sepasang telinga yang cakap lebih baik daripada sepasang mata."

Pria itu mengabaikan Xiao Liu sembari ia mengganti pakaiannya dan duduk dikursi untuk membaca dokumen. Barulah Xiao Liu akhirnya bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Rambut berwarna putih seperti salju yang tidak digelung berbentuk sanggul melainkan diikat seutas tali yang mirip warna gading dan dibiarkan jatuh dengan rapi dibelakang kepalanya. Wajahnya sungguh rupawan sampai-sampai seperti tidak nyata. Seluruh tubuhnya sangat bersih sampai-sampai membuat merinding.

Saat ini dia sedang memegang selembar dokumen dengan satu tangan selagi matanya melihat mengejek. Dia merasakan pandangan Xiao Liu dan Xiao Liu bergidik dan segera menutup matanya. Pandangan seperti itu pernah dia alami ketika masih kecil, pandangan itu sama seperti pandangan iblis raksasa yang pernah menangkapnya, pandangan seperti itu hanya dimiliki oleh orang yang telah menginjak mayat dalam jumlah yang tak terhitung.

Xiao Liu menebak siapa pria itu, dialah si legenda iblis sembilan nyawa yang wajah rupawannya tiada bandingan - satu satunya dengan sembilan nyawa, Xiang Liu.

Tangan dan kaki Xiao Liu terikat dan ia tidak bisa bergerak sehingga setelah beberapa lama tubuhnya menjadi kaku. Pada malam hari prajurit membawakan makanan dan Xiang Liu dengan santai makan. Xiao Liu lapar dan haus, melihat Xiang Liu nampaknya tidak akan  memberinya makanan maka Xiao Liu mencoba memikirkan sesuatu.

Dia berpikir Shi Qi pasti mencoba mencarinya namun tidak mungkin ia bisa menemukan tempat ini. Dia mungkin sudah kembali ke kota. Xiang Liu menyelesaikan makannya dan dengan santai berbaring diatas dipan sambil membaca buku.

Seorang prajurit datang membawakan dokumen dan segera pergi. Xiang Liu membacanya lalu memandang Xiao Liu, tampak berpikir. Xiao Liu menebak itu pasti laporan soal dirinya dan mencoba tersenyum setulus mungkin.

"Tuanku, semua yang hamba katakan jujur apa adanya. Aku punya keluarga yang menantiku dirumah."

Xiang Liu dengan dingin berkata "Aku hanya percaya instingku. Siapa kau?" Xiao Liu memutar bola matanya "Saya Wen Xiao Liu, seorang tabib dari klinik Hui Chun."

Xiang Liu mengetukkan jarinya. Xiao Liu gemetar, insting primitif mahkluk hidup ketika takut mati. Xiao Liu paham kalau Xiang Liu tidak memiliki kesabaran untuk mencati tau mengapa ia begitu mencurigakan dan pasti akan menggunakan cara paling efisien dan efektif untuk mencari jawaban, seperti yang dilakukannya pada Jiu Jiu sebelumnya.

Ketika aura kematian datang mengitari Xiao Liu sempoyongan dan mencoba menghindar sambil mengatakan "Tuanku, aku benar Wen Xiao liu. Mungkin benar aku bukan hanya Wen Xiao Liu, tapi aku tidak memiliki kemampuan taupun keiginan untuk merugikan pasukan dibawah kepemimpinan Jendral Gong Gong. Aku bukan kepunyaan kerajaan Xuan Yuan, atau kerajaan Gao Xing, dan bukan pula kerajaan Sheng Nong. Aku hanya .... "

Xiao Liu terdiam dan berpikir "Siapakah aku?"

Dia mengangkat kepalanya dan membiarkan seluruh ekspresinya dilihat oleh Xiang Liu "Aku hanya seseorang yang terbuang. Aku tak punya kemampuan melindungi diri, aku tak punya seseorang yang bisa kuandalkan, aku tak punya tempat untuk pulang, oleh karena itu aku memilih untuk tetap  menjadi Wen Xiao Liu dari kota Qing shui. Jika tuanku mengijinkan, aku hanya ingin menjadi Wen Xiao Liu seumur hidupku."

Xiang Liu memandang Xiao Liu dan Xiao Liu tak berani bergerak namun butiran keringatnya bercucuran dan ada air mata yang tertahan dimatanya disebabkan oleh rahasia jatidiri dirinya yang dipaksa terbuka.

Setelah beberapa saat, Xiang Liu berkata "Kalau kau ingin hidup, bekerjalah untukku."
Xiao Liu diam. Xiang Liu memadamkan lampu "Kau punya satu malam untuk memikirkannyal" Mata Xiao Liu terbuka dan memandang lurus ke depan.

Fajar tiba dan Xiang Liu berpakaian dan bertanya "Apakah sudah kau putuskan?" Dengan malas Xiao Liu menjawab "Masih kupikirkan. Aku sangat haus, aku mau minum dulu. " Xiang Liu tertawa dingin dan berkata "Bawa dia keluar."

Dua orang prajurit menyeret Xiao Liu keluar dan Xiang liu memerintahkan "Cambuk dia, dua puluh kali."

Cambukan ala tentara bisa membuat iblis paling bengis menyerah karena sakitnya sedemikian rupa. Dan pria yang akan mencambuk Xiao Liu memiliki tangan yang sungguh kuat. Dengan seratus dua puluh kali cambukan yang dilakukannya dia pernah membunuh seorang prajurit berusian ratusan tahun dari kaum iblis. Tali cambuknya tebal seperti ekor banteng dan datang menghentak ketika Xiao Liu berteriak "Aku sudah selesai berpikir, selesai berpikir ... "

Setelah dua puluh kali cambukan, Xiang Liu melihat Xiao Liu dan bertanya "Apa keputusanmu? Xiao Liu tersenggat "Aku punya tiga persyaratan."

"Cambuk dia dua puluh kali."

Cambukan berlanjut dan Xiao Liu memohon "Dua syarat, satu syarat ..."

Dua puluh kali cambukan berlalu dan bagian belakang Xiao Liu dipenuhi dengan darah dan dia menggeliat kesakitan. Xiang Liu memandang dingin dan bertanya " Masih ada syarat lain?"
Tubuh Xiao Liu bermandikan keringat dan mulutnya berdarah sehingga ia tidak bisa mengucapkan kalimat dengan sempurna "Kau .... bisa membunuhku, tapi aku .... hanya ... mengajukan ... satu permintaan." Xiang Liu menyunggingkan senyum diujung bibirnya dan berkata "Katakan!"

"Aku ... aku tidak akan meninggalkan kota Qing Shui." Xiao Liu paham bahwa Xiang Liu tertarik dengan kemampuannya membuat racun dan selama dia tidak meninggalkan kota Qing Shui maka Xiang Liu tidak akan bisa mengirimnya untuk membunuh jendral dan bangsawan kerajaan Xuan Yuan. Maupun untuk membunuh kaum bangsawan dan anggota kerajaan Gao Xing. Xiang Liu sepertinya memahami cara pikir Xiao Liu dan hanya memandanginya tanpa ekspresi.

Xiao Liu bertindak seperti pengecut sebelumnya namun kali ini dia tidak mau mengalah dan balas menatap Xiang Liu. Maksudnya jelas, kalau ia tak setuju maka silahkan bunuh. Setelah beberapa saat, Xiang Liu berkata "Baiklah!"

Xiao Liu menarik nafas lega dan pingsan.

Prajurit menyeret Xiao Liu ke sebuah ruangan dan seorang dokter melepaskan bajunya dan mengoleskan obat dipunggungnya. Xiang Liu berdiri dipintu masuk tenda, mengawasi dengan dingin. Xiao Liu berbaring di atas papan kayu dan dengan patuh membiarkan dokter merawatnya. Ketika obat sudah diberikan dan orang orang pergi, Xiang Liu berkata padanya "Buatkan ramuan apapun yang aku minta. Diluar itu kau boleh melanjutkan keahlian pengobatanmu di Qing shui. Namun saat aku memanggilmu kau harus segera mematuhi."

"Baiklah, tapi bukan berarti aku bisa membuat apa saja yang tuanku minta."

"Kalau kau tidak bisa, maka kau harus membayarnya dengan tubuhmu."

"Huh?" Xiao Liu tidak pernah berpikir kalau Xiang Liu menyukai sesama jenis dan dengan hati hati berkata "Tuanku tampan tiada bandingan. Bukannya aku tidak ingin melayanimu namun ... "
Xiang Liu mencibir dan meletakkan kakinya di atas luka Xiao Liu sampai lukanya kembali mengeluarkan darah "Satu kali kau tidak bisa membuatnya, maka gunakan satu bagian tubuhmu untuk membayarnya. Kali pertama, telingamu. Kali kedua, hidungmu. Tanpa hidung, tentunya ..."
Xiang Liu meningkatkan tekanan "Jangan cemas, aku tidak akan memotong tanganmu, kau memerlukannya untuk membuat ramuan." Xiao Liu sangat kesakitan dan merintih "aku .... aku mengerti."

Xiang Liu mengangkat kakinya dan membersihkan darah disepatunya kebaju yang dikenakan oleh Xiao Liu "Kau licin seperti belut, sekejap lengah maka yang tertinggal cuma lumpur. Tapi tentang sifatku, kau boleh tanya ke sekeliling."

Xiao Liu membantah "Aku tidak perlu bertanya untuk memahaminya."

Suara seorang prajurit terdengar "Tuan, seseorang menerobos barak."

Xiang Liu keluar dan suara berisik berhenti. Xiao Liu mendengar seorang prajurit bertanya "Siapa kau dan mengapa menerobos masuk ke wilayah Sheng Nong?" Sebuah suara serak menyahut "Ye Shi qi. Xiao Liu."

Itu Shi qi! Dia datang! Xiao Liu merangkak keluar dan berteriak "Tuanku Xiang Liu, tolong jangan lukai dia. Dia pelayanku dan dia datang mencariku."

Shi Qi berlari menuju Xiao liu dan energi spiritualnya tak diduga ternyata cukup hebat karena dia menerjang semua prajurit yang coba menghalanginya.  Namun ini pasukan  terlatih, bila ia merubuhkan dua maka empat lagi akan muncul jadi Xiao Liu berteriak "Shi Qi, berhenti! Ini perintah."

Shi Qi berhenti dan prajurit mengepungnya sambil membelalak namun Shi Qi tidak melihat Xiao Liu dia hanya menatap Xiang Liu "Aku. Akan. Membawa. Xiao Liu."

Xiao Liu mencoba menarik perhatian sebisa mungkin dan berteriak " Tuanku! Aku sudah jadi milikmu!" Kata kata itu .... menyebabkan semua prajurit tertegun.

Xiang Liu menautkan alisnya namun menurunkan tangannya dan semua prajurit bubar. Shi Qi bergegas ke sisi Xiao Liu dan setengah menopangnya untuk berdiri. Tangannya dengan lembut memegang punggungnya. Mungkin disebabkan oleh perasaan nyaman sakit yang dirasakan Xiao Liu sedikit berkurang. Shi Qi berlutut dan berkata "Mari kita pulang."

Xiao Liu naik ke punggung Shi Qi dan tersenyum jahil ke arah Xiang Liu "Tuanku, aku pulang sekarang."

Xiang Liu terus menatap Shi Qi dan Xiao Liu menjadi gugup dan serta merta memegangi wajah Shi Qi seperti kanak kanak dan berkata "Jangan punya pikiran aneh aneh tentang dia (Shi qi). Dia milikku. * yippppppiiiiiiiieeeeee , Xiao Liu cemburu hahahahah

Xiang Liu terlonjak dan seolah akan tersenyum namun tidak jadi. Dia berdeham beberapa kali "Setelah memeriksa dan yakin bahwa kau adalah penduduk kota Qing Shui dan bukan ancaman bagi pasukan Sheng Nong, kau bebas untuk pergi."

Xiao Liu meneruskan gurauannya dan berkata "Terimakasih tuanku, setelah aku kembali kerumahku aku akan menyebarluaskan tentang kebaikan hati tuanku kepada khalayak."

Para prajurit pergi dan Shi Qi menggendong Xiao Liu dipunggungnya dan segera pergi. Setelah yakin tidaknada suara dibelakang mereka baru Xiao Liu bicaran"Shi Qi, aku haus."

Dengan lembut Shi Qi menurunkan Xiao Liu dan memberika termos air padanya. Xiao Liu minum beberapa teguk dan menghela nafas panjang "Ayo cepat pergi sebelum Xiabg Liu berubah pikiran."
Shi Qi berlutut dan Xiao Liu ingat kalau Shi Qi tidak suka sentuhan
Shi Qi berlutut dan Xiao Liu ingat kalau Shi Qi tidak suka sentuhan namun saat ini tidak ada pilihan lain jadi Xiao Liu dengan hati hati naik kepunggung Shi Qi "Aku minta maaf, aku tahu kau tidak suka menggendong seseorang. Kau bisa anggap aku batu dan batu tidak mengeluarkan bunyi ... atau kau bisa membayangkan aku seekor babi, babi yang bisa bicara. Oh, tapi kau tidak suka babi? Kalau begitu kau bisa bayangkan aku sebagai ....."

Shi Qi menjawab pelan "Aku akan menganggap itu kau. Aku tak keberatan menggendong....mu."
Xiao Liu terdiam dan lalu menggumam "Baiklah, silahkan berpikir bahwa ini memang aku." Setelah menyadari apa yang dia katakan Xiao Liu tertawa beberapa saat sebelum berhenti dan berkata "Shi Qi, punggungku sakit, bisakah kau menemaniku ngobrol?" "Ya."

"Shi Qi, bagaimana kau menemukanku?" "Jejak. Bisa mengikuti." "Oh, kalau begitu kau mahir mencari jejak. Apakah kau mempelajarinya dimasa lalu?" Xiao Liu tersadar mungkin Shi Qi tidak suka membicarakan tentang masa lalu "Maaf, kau tidak harus menjawab."

"Shi Qi, Xiang Liu itu sungguh jahat, kalau kau bertemu dengannya suatu saat nanti berhati hatilah. Jangan biarkan dia tahu kau punya kegunaan untuknya. Kalau dia tahu dia akan berpikir macam-macam denganmu." "Ya."

Nnnnnnnnggggg, kali ini sunghuh sia sia! Tidak dapat uang malah dirinya yang TERJUAL. Bagaimana bisa aku tertangkap oleh iblis Xiang Liu itu? Bagaimana hari esok jadinya?

Shi Qi memperlambat jalannya dan menoleh kebelakang dan bibirnya menyentuh dahi Xiao Liu (I am giddy). Hawa panas dari nafasnya menyapu wajah Xiao Liu dan shi Qi dengan kaku berkata "Jangan.... takut."

Mungkin bekat siksaan dari Xiang Liu. Atau karena tameng kokoh dalam hatinya yang dipaksa terbuka masih belum menutup sepenuhnya. Xiao Liu sungguh sungguh membutuhkan bahu sandaran dan dia menutup matanya dan merebahkan kepalanya dibahu Shi Qi, meletakkan kepalanya dileher Shi Qi. Persis seperti kucing bergelung ditubuh Shi Qi "Aku tidak takut padanya. Aku tak percaya tidak ada racun yang bisa membuatnya mati. Saat aku bisa membuat racun itu satu hari, maka ...."

Xiao Liu mengepalkan tangannya dan melakukan gerakan tinju seolah olah hendak menghancurkan sesuatu "Shi Qi, saat kita sampai rumah, jangan bilang apa-apa. Jangan biarkan Lao Mu dan mereka (Ma Zi dan Chuan Zi) tau. Lao Mu menghabiskan hidupnya bertempur melawan tentara Sheng Nong dan dia takut kepada iblis Xiang Liu itu. Tapi kukira aku tak perlu mengingatkanmu. Ma Zi dan Chuan Zi sudah berulang kali berupaya menggali banyak info tentangmu, selama dua tahun mereka sudah memberitahukanmu berapa banyak keburukan yang mereka miliki namun mereka tak tahu apa-apa tentangmu..."

Langkah kaki Shi Qi melambat dan Xiao Liu menepuk dadanya untuk menenangkan perasaannya " Aku tau, kau adalah Shi Qi. Aku berharap kau tetap akan menjadi Shi Qi selamanya. Namun aku tau itu tidaklah mungkin. Namun untuk setiap harinya ketika kau masih disini, maka kau adalah Shi Qi untuk satu hari lagi, dan kau harus mendengarkanku..." "Mmmm hmmmmm."

"Kau harus mendengarkanku!"

"Mmmm hmmmm,"

Xiao Liu senang sekali seperti seekor tikus yang mencuri minyak dan dia merasakan sakitnya berkurang. Bersandar pasrah dipunggung Shi Qi dan Xiao Liu pun tertidur.

Shi Qi membuatkan Xiao Liu kasur rumput yang nyaman dan mengubah gua menjadi rumah tinggal sementara mereka. Mereka hidup seperti pemburu. Setiap hari, Shi Qi pergi dan bertingkah seperti pemburu. Ketika dia kembali, Xiao Liu mengarahkan dan Shi Qi menjalankan dan mereka masak makan malam bersama. Shi Qi kelihatan jelas belum pernah melakukannya karena ceroboh ia banyak melakukan kesalahan. Xiao Liu akan terbahak senang, namun Shi Qi pria yang pintar dan setelah beberapa kali mencoba ia dapat menguasai semua yang diajarkan dan karenanya malah mengurangi kebahagiaan Xiao Liu untuk menertawakan kecerobohan Shi Qi.

Kehidupan siang dan malam hari digunung sungguh sepi dan bagi mereka yang tidak bisa bergerak bahkan lebih sepi lagi. Xiao Liu terus mengajak Shi Qi ngobrol - semua yang ada dibumi mereka bahas. Makanan yang enak, matahari terbenam yang indah ... Shi Qi dalam diam selalu mendengarkan.

Xiao Liu kadang merasa bersalah "Apa aku terlalu banyak bicara? Aku hidup sendiri selama dua puluh tahun dan selama masa itu aku jadi punya kebiaasaan aneh. Aku takut bertemu orang dan berpetualang sendir sajai. Pada awalnya aku tidak pernah bicara, namun seiring jalannya waktu suatu ketika saat aku digunung aku lupa nama salah satu buah. Aku jadi takut meskipun aku tidak tau apa yang kutakutkan. Sejak saat itu, aku bicara pada diriku sendiri, dan ada kejadian yang luar biasa, ketika itu berhasil menangkap seekor monyet dan aku berbicara kepadanya sepanjang hari. Monyet itu tak sanggup lagi mendengarkan ocehanku dan pada akhirnya mencoba bunuh diri dengan cara membenturkan kepalanya ke dinding gua..."

Xiao Liu terbahak-bahak namun Shi Qi hanya melihatnya dalam diam.

Setiap hari Xiao Liu perlu mengganti perbannya dan dengan gamblangnya memperlihatkan bagian belakangnya kepada Shi Qi. Xiao Liu tak bisa melihat tampang Shi Qi, dengan sedikit menggoda ia berkata "Aku sudah melihat seluruh tubuhmu dari atas sampai ke bawah namun yang bisa kau lihat dari aku hanya bagian belakangku. Apakah kau merasa ini tak adil?" Shi Qi tak bilang apa-apa dan Xiao Liu terkikik.

Luka luka Xiao Liu sangat parah, pada awalnya Shi Qi berpikir bahwa mereka akan menghabiskan waktu sebulan atau dua bulan digunung namun pada hari kesepuluh Xiao Liu sudah bisa menggunakan tongkat. Dua hari kemudian Xiao Liu memutuskan untuk pulang.

Saat Xiao Liu mengumpulkan tanaman obat tempo hari, dia menunjuk dua tanaman yang sangat langka dan bertanya apakah Shi Qi mengambilnya? Shi Qi mengangguk "Melihatnya ketika berburu. Kau menyebutnya sebelum ini." Akhir akhir ini, Shi Qi menghabiskan waktunya dengan Xiao Liu sehingga kosa katanya bertambah. Xiao Liu sangat senang dan ingin sekali rasanya memeluk dan mencium Shi Qi "Itu hebat! Ma Zi dan Chuan Zi bisa mendapatkan istri sekarang."

Shi Qi merunduk untuk menggendong Xiao Liu namun Xiao Liu mundur "Tidak usah, aku akan berjalan." Sebelumnya karena ia memang tak bisa berjalan sehingga tidak ada pilihan lain tapi sekarang dia sudah bisa berjalan jadi merasa tak enak hati untuk memanfaatkan kesopanan Shi Qi. Shi Qi berdiri dan mengikuti Xiao Liu.

Mereka kembali ke Qing Shui dan Lao Mu menyambut mereka dengan hunusan pedang dan meraung "Mengapa kalian pergi lama sekali? Bukankah sudah aku bilang tempat tempat yang tidak boleh didatangi?"

Xiao Liu dengan bahagia memperlihatkan tanaman langka "Tentu saja aku tidak pergi ke tempat terlarang! Shi Qi tidak paham wilayah gunung jadinya kami tersesat selama beberapa hari namun kami kan kembali dengan selamat sekarang, ya tidak?"

Lao Mu melihat tanaman langka itu dan merasa senang, ia mengambil dan menyimpannya dengan baik. Xiao Liu mengedipkan matanya ke Shi Qi, sambil bersiul dan masuk ke kamarnya.

Sebulan kemudian, dibawah pengaturan Lao Mu, Ma Zi dan putri tukang daging Gao bertunangan. Semuanya kembali normal dan setiap hari berlangsung seperti biasa - sangat tenang sampai sampai membosankan, sangat membosankan namun damai, sangat damai jadi semuanya menyenangkan.
Diluar itu, sesekali seekor elang kecil akan datang mencari Xiao Liu, membawa sesuatu dan pergi membawa sesuatu. Xiao Liu meracik ramuan untuk Xiang Liu namun menahan dirinya. Bila racun yang dibuatnya sangat mematikan dan sesuai dengan permintaan Xiang Liu, pasti warna dan baunya dia buat buruk sekali sehingga tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang penting yang berada dalam penjagaan ketat.

Xiao Liu berpikir dengan berjalannya waktu maka maka Xiang Liu akan keberatan namun sepertinya dia tak keberatan soal warna, bau, dan rasanya, selama racun yang dibuat sesuai permintaan dia menerima semuanya.

Xiao Liu mengerahkan semua pengetahuannya dalam membuat racun dan berkesimpulan bahwa Xiang Liu memperoleh kekuatannya dengan melatih diri dengan meminum racun. Xiao Liu berpikir bahwa semua racun yang dia buat pasti Xiang Liu yang  meminumnya.

Setelah Xiao Liu mengetahuinya, Xiao Liu bernafas lega, dan melanjutkan meracik racun yang rasanya sangat sangat tidak enak.

Setahun berlalu, Lao Mu menggelar pesta pernikahan sederhana untuk Ma Zhi dan Chun Tao, putri tukang daging Gao. Ma Zhi adalah anak korban perang, seorang yatim piatu yang dulunya adalah pengemis yang percaya bahwa takdirnya suatu hari akan ditemukan dalam keadaan mati disisi jalan dan mayatnya akan dimakan anjing liar. Selagi anjing anjing itu makan mereka akan menggonggong dengan bahagia, seperti itulah takdir bagi kebanyakan anak anak yatim pada masa masa bergejolak.
Namun Xiao Liu dan Lao Mu mengubah takdir mereka. Xiao Liu dan Lao Mu bukan manusia biasa. Ketika Ma Zhi berusia tujuh tahun dia diselamatkan oleh Xiao Liu dan setelah sepuluh tahun berlalu Ma Zi sudah tumbuh 6 kaki dan menjadi kuat dan sekarang Xiao Liu kelihatan lebih muda darinya. Namun Ma Zhi selalu menganggap Xiao Liu dan Lao Mu adalah orangtuanya. Di depan semua tamu dia menggandeng tangan Chun Tao dan membungkuk tiga kali dihadapan mereka. Lao Mu sangat terharu dan mengusap air matanya bahkan Xiao Liu tak biasanya bersikap sangat serius dan menasehati Ma Zhi "Sering seringlahlah tidur dengan Chun Tao dan miliki banyak anak."

Ma Zi sebenarnya masih ingin bicara namun setelah mendengarkan perkataan Xiao Liu ia memilih diam dan tak berani ngomong apa-apa lagi. Kalau Chun Tao tau dia menikahinya agar ia bisa tidur dengannya setiap malam dan harganya lebih murah ketimbang menghabiskan uang dirumah pelacuran maka sudah jelas istrinya akan minggat. Dia menggenggam erat tangan Chun Tao dan buru-buru kabur.

Xiao Liu terkikik nakal dan Shi Qi tersenyum kepadanya. Lao Mu sedang sibuk mengantarkan para tamu pulang dan Xiao Liu duduk disatu sudut halaman sedang asyik mengunyah paha ayam. Tiba tiba Chuan Zi masuk ke dalam dan bicara tergagap "Seorang ... tamu." Dia menyeret Xiao Liu keluar dan nampak Xiang Liu, berpakaian serba putih, berdiri di depan pintu klinik. Tubuhnya yang jangkung tampak bersih seperti bunga lily yang telah diguyur hujan selama tiga hari berturut turut. Sangat bersih sampai sampai ingin membuat orang yang melihatnya lari pulang dan segera mandi.

Lao Mu merasa tidak pantas menerima hadiah dari Xiang Liu dan terus saja mengusap tangannya kejubahnya, takut jangan-jangan keringatnya akan mengotori Xiang Liu. Xiao Liu mencemooh dan maju kedepan, melemparkan paha ayam ke tanah dan dengan menggunakan dua tangannya yang berminyak menerima hadiah dari Xiang Liu dan dengan beraninya menjabat tangan Xiang Liu. Senyum Xiang Liu tak pernah hilang dari bibirnya dan hanya melirik ke arah Chuan Zi yang berdiri disamping Xiao Liu dan Xiao Liu langsung kembali normal. Dia memberikan hadiah Xiang Liu ke Chuan Zi dan segera membungkuk hormat sambil berkata "Mari masuk ke dalam."

Xiang Liu duduk dan tak seorang pun berani duduk sepanjang tiga kaki darinya entah karena takut ataupun hormat. Shi Qi dalam diam duduk disebelah Xiao Liu dan Xiao Liu menatapnya sesaat sebelum menoleh ke Xiang Liu dengan senyum terulas "Aku membuat semua racun yang kau minta. Tidak ada yang salah, benarkan?" Xiang Liu tersenyum "Kau melakukannya dengan baik karena itu aku datang dengan membawa hadiah."

Xiao Liu terdiam - jadi kau datang untuk mengingatkanku bahwa kau baru tidak saja punya tiga sandera, namun sekarang empat.

Dihalaman luar sekelompok tamu muda sedang memainkan permainan untuk meledek Ma Zi dan Chun Tao dan suara tawa sesekali terdengar. Anak anak mengunyah permen dan berlari keluar masuk sementara Lao Mu dan tukang daging Gao minum dan bercengkerama.

Xiang Liu melihat keriuhan kaum manusia dan dengan nada mengejek berkata "Ketika mereka semua mati, kau masih akan tetap seperti ini. Apakah pemandangan ini membuatmu senang?"
Xiao Liu menjawab " Aku takut kesepian. Aku tidak bisa menemukan kawan yang bisa menemaniku dalam waktu lama maka teman sementara sudah cukup bagus." Xiang Liu memandang Xiao Liu yang dengan senang hati menuangkan anggur untuknya "Selagi kau disini, minumlah anggur pernikahan ini, aku yang membuatnya."

Xiang Liu minum satu tegukan dan dengan santai bilang "Selain racun yang ada didalamnya tak ada yang bagus untuk dibanggakan dari segi rasa." Xiao Liu bertanya dengan penuh perhatian "Apakah kau diracuni?" Xiang Liu menatap Xiao Liu dan Xiao Liu terdiam. Xiang Liu bertanya "Apakah kau benar benar ingin meracuniku sampai mati?"

Xiao Liu menjawab dengan jujur "Aku bukan prajurit Xuan Yuan dan aku tidak haus darah, aku hanya ingin mencambukmu 80 sampai 100 kali."

"Mimpi saja sana." Xiang Liu meminum anggurnya lagi dan mengundurkan diri.
Dengan nada jengkel Xiao Liu bicara kepada Shi Qi "Suatu hari aku akan menemukan kelemahannya. Kalau aku tak bisa meracuninya maka aku akan jalan mundur."

Shi Qi menahan tawa dan Xiao Liu tak sanggup lagi melihatnya masih saja bisa tenang seolah olah segalanya tak berpengaruh dan menuangkannya segelas anggur "Minum!" Shi Qi meminum dan menelannya.

Xiao Liu terkejut "Itu beracun."

Tawa dimata Shi Qi tak pernah hilang selagi tubuhnya merosot jatuh. Xiao Liu dengan panik memberikannya penawar dan berteriak "Kau bodoh!" Namun dalam hatinya (Xiao Liu) merasakan perasaan yang tak bisa dijelaskan.

Setelah pernikahan Ma Zi, Si sembilan nyawa Xiang Liu sesekali datang ke klinik dan duduk dihalaman minum anggur buatan Xiao Liu dan memakan snack punya Xiao Liu. Ketika pergi ekspresi wajahnya tak berubah dan degup jantungnya pun tetap sama. Tingkah laku tak lazim Xiang Liu-lah yang membuat Xiao Liu semakin kesal.

Ketika Xiao Liu menekuni bidang kesehatan, semuanya berawal dari niat yang salah. Dia ingin belajar agar bisa membunuh seseorang dan tak mau belajar untuk menyelamatkan nyawa. Namun sekarang Xiang Liu minum racunnya bak permen! Xiao Liu berpikir dan terus berpikir dan memutuskan untuk terus belajar, belajar bagaimana membunuh orang. Dia bersumpah untuk tetap berjalan dijalan yang salah dengan tujuan untuk meracuni iblis ini cepat atau lambat!


 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
What’s done is done, tak ada yang perlu disesali. Yep, today aku “terpaksa” melakukan sesuatu yang aku sebenarnya ga suka, kalau saja masih ada pilihan aku pasti tak mau melakukannya. Namun dalam hidup seringkali memang kita terpaksa melakukan apa yang tidak suka. Hopefully, ini kali pertama dan terakhir, it feels terrible, tapi ya sudahlah ......
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

No comments:

Post a Comment

Death Exist Not at the River of Oblivion - Chapter 10

Chapter 10: Sulit sekali mencintaimu di kehidupan kali ini Aku tak melihat sosok Zhonghua lagi sejak hari itu. Kelihatannya dia benar-be...